Balapan Formula 1 telah
lama saya kenal meski saya hanya menontonnya secara “sekilas” saja. Tepatnya
pada zaman Michael Schumacher dan Ralf Schumacher serta Kimi Raikonen dulu.
Saya pun sempat FOMO dengan memiliki beberapa eksemplar buku tulis bergambarkan
para pembalap tersebut. Jadi waktu saya melihat Brad Pitt main di film F1, reaksi
saya biasa saja, gak ada hype sama sekali.
Fistly
first, F1 (2025) yang dibintangi Brad Pitt ini enak untuk ditonton, termasuk
untuk saya yang gak ngikutin F1 sama sekali. Pada film ini, cukup dijelaskan
aturan balapannya seperti apa, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan
saat bapalan, dan hal-hal teknis lainnya.
Brad Pitt berperan
sebagai Sonny Hayes, pembalap berusia lebih dari setengah abad, yang jelas udah
lewat masa primenya untuk F1. Sonny ini pada tahun 90an (di universe film ini)
sempat balapan F1 juga, tapi sebelum berjaya, ia mengalami kecelakaan parah
sehingga ia banting setir pada jenis balapan lain seperti Nascar, Rally Dakar,
dan lainnya sambil berjudi, miras, ganti-ganti istri dan pacar, dan hal-hal
chaos lainnya. Tipikal Brad Pitt banget, seperti perannya sebagai Tyler Durden di
fim Fight Club (1999).
Kalau kalian
ekspektasinya balapannya bakal menampilkan adegan fantastis kayak Fast and
Furious atau Mad Max, simpan fantasi kalian. Film ini benar-benar logis, pakai
hukum fisika yang saintifik banget. Dijelaskan disini bahwa untuk bapalan F1,
harus benar-benar kerjasama tim, dimana perubahan sesedikit apapun sangat
berpengaruh dalam balapan.
Misal, pergantian sayap
mobil menambah kecepatan mobil sebesar 0,2 detik setiap lapnya. Terlihat kecil,
tapi jika dikalikan 50 lap, itu bisa menambah selisih 10 detik. Contoh lain,
pembalap dan timnya pun harus benar-benar menyusun strategi untuk ganti ban
dengan matang. Jangan sampai terlalu dini, dan jangan sampai telat. Terlalu
dini nanti kesusul yang dibelakang. Kalau telat ganti ban nanti bisa pecah dan
mengakibatkan kecelakaan.
Balapan F1 dan balapan
lainnya pun bukan sekadar kebut-kebutan belaka. Tapi kombinasi fisika,
matematika, dan keberanian. Sepersekian detik itu sangatlah berharga dan
menentuka antara pemenang dan pecundang. Telat ganti ban sepersekian detik bisa
menentukan apakah pembalap itu menang. Telat mengerem atau telat belok pun gak
cuma bisa menyebabkan seorang pembalap kalah, tapi bisa menentukan apakah
pembalap tersebut hidup, atau mati.
Sometimes I wonder, “Kenapa
dulu gak bercita-cita jadi pembalap kayak gini ya?”
Tapi ya saya sadar, saya
gak punya privilege untuk itu. I mean, untuk bisa masuk dunia motosports itu
gak cukup punya fisik kuat, knowledge mesin, dan keberanian layaknya Dominic
Toretto saja. Hahahaha, bahkan kalau mesin motor saya mati di jalan saja saya
gak pernah repot-repot bongkar motor, bawa ke bengkel terdekat saja dan
percayakan pada montir saja.
Ah ya, dan tentu
pembalap F1 beda dengan abang-abangan otomotif Bandung/Jakarta Selatan.
Abang-abangan otomotif di sekitar kita pasti banyak yang cungkring atau perutnya
buncit meski ia mengendarai Nissan Skyline atau Mitsubishi Lancer Evo. Pembalap
F1 itu pada atletis, tiap hari pada latihan cardio berat layaknya atlet marathon,
latihan beban seperti bodybuilder, dan latihan refleks seperti petinju. Karena
ya G-force F1 itu berat banget, otot leher, lengan, dan core harus sangat kuat.
Intinya, jadi pembalap
F1 itu mahal, keras, dan tidak sesederhana ngebut seperti game atau film. Saya
pernah coba simulasi F1 milik Ferrari dalam salah satu pameran otomotif. Jelas
berbeda dengan game Need
for Speed: Most Wanted dimana saya berhasil nge-drift pakai BMW dengan
kecepatan 100 km/jam dengan santai dan gaya. F1 beda banget! Dan semuanya
dirangkum dengan apik dalam film ini.
0 Comments