Tahun 2025 menutup Cobra Kai dengan sempurna. Ia adalah anomali, dimana sebuah series mampu melanjutkan suksesnya Trilogy Karate Kid tahun 80an tanpa milking berlebihan dan bukan sekadar jual nostalgia belaka. Tapi gak cukup sampai disitu, universe Karate Kid ditutup dengan bab epilog berjudul Karate Kids: Legends. Gak tanggung-tanggung, menampilkan Ralph Macchio dan Jackie Chan!

Baca tulisan saya di Mojok: Cobra Kai, Serial Menarik Tanpa Jualan Nostalgia


Ralph Macchio kembali sebagai Daniel LaRusso, sementara Jackie Chan hadir sebagai Mr. Han. Dengan begitu, The Karate Kid (2010), trilogy Karate Kid era 80-an, dan serial Cobra Kai kini terkonfirmasi berada dalam satu universe. Bahkan jika ditarik lebih jauh, The Next Karate Kid (1994) yang menampilkan Pat Morita dan Hilary Swank pun sah dianggap canon.

Kembali ke film Karate Kid: Legends....

Karate Kid: Legends menampilkan Li Fong (Ben Wang), murid Mr. Han (Jackie Chan) yang pindah dari Beijing ke New York City karena ibu Li Fong, Dr. Fong (Ming-Na Wen) ingin mulai hidup baru di Amerika setelah kakak Li Fong, Bo Fong (Oscar Ge) meninggal dunia. Ah ya, Mr. Han dan Dr. Fong ini masih satu keluarga, yakni paman dan keponakan.

So far, premisnya persis seperti Original Trilogy Karate Kid, The Next Karate Kid (1994), The Karate Kid (2010) dan series Cobra Kai. Ini yang bikin film gak mau ketinggalan. Ia memanfaatkan hype Cobra Kai yang sudah tamat dan berusaha memanfaatkan nama besar Jackie Chan selagi beliau masih hidup. 

Menggabungkan Ralph Macchio dan Jackie Chan adalah ide jenius! Jadi ya Mr. Han dan Daniel LaRusso ini bisa dibilang saling terhubung dari Mendiang Mr. Miyagi.  Film ini mengisyaratkan bahwa leluhur Mr. Miyagi, yang berasal dari Okinawa, pernah belajar kungfu secara langsung dari daratan Tiongkok beberapa genrasi sebelum Mr. Miyagi lahir. Secara lineage filosofis, Mr. Miyagi dan Mr. Han digambarkan berada dalam satu jalur sanad yang sama.

Menariknya, narasi ini tidak sepenuhnya mengada-ada. Secara historis, karate memang berkembang di Okinawa dengan pengaruh kuat dari kungfu Tiongkok, sebelum kemudian dimodernisasi dan disistematisasi di Jepang pada era Gichin Funakoshi. 

Sejak awal kemunculannya, universe Karate Kid berbeda dengan film martial arts lain macam Bloodsports (1988) apalagi Kuro Obi (2007) dan Ip Man (2008). Lupakan teknis beladiri yang berdarah-darah karena ini hanya menampilkan karate as a combat sports, bukan karate as martial arts. Well, karena secara teknis, gak jelas juga aturannya pakai aturan Kyokushin, World Karate Federation, Japan Karate Association, atau aturan karate yang mana? Karate-gi atau kostum lainnya juga ini suka-suka si pembuat film.

Terlepas dari kekacauan teknisnya, dampak Karate Kid terhadap dunia nyata nyaris tak terbantahkan. Jutaan anak di seluruh dunia tertarik belajar karate karena trilogy aslinya, termasuk saya. Karate Kid mungkin bukan referensi teknis yang valid, tapi ia berhasil menginspirasi banyak orang.



Sebagai epilog, Karate Kid: Legends tahu kapan harus berhenti. Ia tidak mencoba membuka bab baru secara agresif, melainkan menutup sesuatu yang sudah susah-susah dibangun sejak tahun 1984 dengan rapi.