Beberapa bulan ini, hampir setiap malam, utamanya beberapa jam sebelum tidur, saya rutin mendengarkan lagu Soldier of Fortune karya Deep Purple. Memang, ada sejumlah lagu lain macam Stairway to Heaven karya Led Zeppelin, Don’t Cry karya Guns N' Roses, Temple of the King karya Rainbow hingga Still Got the Blues karya Garry Moore.

Sebut saja saya seperti bapak-bapak Baby Boomers. Karena, lagu-lagu yang saya sebutkan tersebut umumnya ada pada bapak-bapak Baby Boomers atau sekurang-kurangnya Gen X yang tumbuh dengan lagu tersebut. Jarang banget Mileneal apalagi Gen Z yang suka dengerin Soldier of Fortune karya Deep Purple, bukan? Tapi saya gak akan bahas itu disini.

Secara harfiah, Soldier of Fortune menceritakan tentang kisah seorang pengembara atau prajurit tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas, dan penuh penyesalan atas segala kesalahan yang ia perbuat selama hidup. Hidup tanpa makna dan hidup yang disesali. Tanpa teman seperjuangan. Semua dilakukan sendiri, disesali sendiri, dipendam sendiri. Setidaknya, tafsiran saya sebagai orang awam seperti itu.

Namun, ada hal sedih tapi senang ketika saya mendengarkan lagu ini, terutama dimalam hari menjelang waktu tidur. Petikan gitar melankolis dan vokal syahdu yang terkandung didalamnya terasa sangat menyayat hati.

Saya tidak tahu kapan persisnya saya pernah mendengar lagu Soldier of Fortune. Lagu ini sendiri pertama saya kenal secara tidak sengaja melalui algoritma YouTube medio 2012-2013 pada suatu malam di sekretariat Mapala kampus yang saya ikuti.

First impression saya tentu saja saya langsung terkesan dengan lagu ini. Saya yakin, sebelum periode itu pun saya pernah mendengarkan lagu ini entah lewat via radio atau televisi. Semakin tua, saya semakin menyukai lagu ini dan rasanya semakin relate.

Bukan berarti saya adalah seorang tentara seperti arti harfiah lagu Soldier of Fortune. Tapi entah kenapa, saya seperti relate dengan analogi "Saya udah berjalan sejauh ini seorang diri dan rasanya capek banget. Semua dialami sendiri, dirasakan sendiri, dipendam sendiri."

Sekalipun ada orang-orang terdekat dalam hidup saya menjadi saksi tentang apa yang saya lakukan, atau mengalaminya bareng-bareng, tapi mereka tetap tidak merasakan hal tersebut. Kira-kira seperti itu yang membuat saya semakin relate dengan Soldier of Fortune.

Di internet, ada banyak orang yang sudah membahas lagu ini. Tidak usah heran, lagu ini sudah berusia lebih dari 50 tahun, jadi pasti ada ribuan atau bahkan puluhan ribu artikel majalah, surat kabar, media online, hingga YouTuber atau TikToker yang ngebahas ini. Yang ngebahas ini tentu gak cuma Baby Boomers dan Gen X. Ada banyak juga Mileneal dan Gen Z (meski jumlahnya belum sebanyak Baby Boomers dan Gen X) yang membahas ini.

Saya yakin, sampai 50 tahun kedepan, lagu ini gak bakal ada matinya. Mungkin akan ada lagu yang vibesnya sejenis, tapi lagu ini akan tetap jadi benchmark dan kiblatnya, seperti The Godfather Trilogy, grup musik Queen atau The Beatles yang menjadi benchmark atau kiblat musisi di seluruh dunia.

Soldier of Fortune ini membuat saya seperti mendengarkan David Coverdale, Ritchie Blackmore dan personil Deep Purple lainnya bercerita di depan api unggun pada hamparan padang pasir kayak di cerita-cerita WIld West macam Lucky Luke atau Billy the Kid dimana mereka menceritakan perjalanan hidup mereka dihadapan anak muda macam saya.

Saya rasa, Soldier of Fortune ini membuktikan bahwa musik itu universal. Saya yakin, orang yang gak bisa bahasa Inggris sama sekali bakal ngerti melankolisnya lagu ini. Saya yakin, orang yang gak bisa bahasa Inggris pun ngerti tentang kesedihan lagu ini lewat petikan gitar dan vokalnya.

Yang bikin frustasi, gak ada yang bisa diajak diskusi tentang Soldier of Fortune. Sekalipun saya mendengarkan lagu ini bersama beberapa orang generasi Baby Boomers, mereka hanya bereaksi “Ini lagu keluar waktu saya SD, zaman-zaman Soeharto” alih-alih membahas musikalitas, lirik, atau maknanya.