“Sebagus
itu dan sespektakular itu! Rasanya, menyesal gak nonton ini di bioskop”,
kira-kira itulah kalimat yang terucap dalam benak saya setelah selesai menonton
Sore: Istri dari Masa Depan (2025).
Jadi,
di tahun 2025, jagat medsos saya ramai dengan perbincangan film berjudul Sore:
Istri dari Masa Depan. Saat itu, saya sudah tahu premisnya, ini semacam endless
time loop seperti film Triangle (2009) dan Palm Spring
(2020). Cuma ya saat premiere di bioskop, kondisi keuangan saya tidak memungkinkan,
jadi ya saya nunggu streamingannya saja.
Film
Indonesia yang bagus itu banyak. Tapi tidak banyak yang seperti menonton Sore:
Istri dari Masa Depan (2025). Konsep endless time loop gini kayaknya baru film
ini deh? Selain itu, seting film ini juga cukup istimewa. Film Indonesia yang
setingnya di Eropa itu banyak, tapi yang persis di negara Kroasia, kayaknya
baru ini? CMIIW.
Pada
intinya, Sore (Sheila Dara) ini terjebak dalam konsep endless time loop dimana
ia berusaha mengingatkan Jonathan (Dion Wiyoko) untuk berhenti mengkonsumsi minuman
beralkohol dan merokok. Karena, 8 tahun kemudian, Jonathan akan mati karena
serangan jantung dan tentu saja, Sore yang sangat mencintainya terpukul.
Gak
usah dibahas teknisnya seperti apa, entah itu blackhole, time dilatation,
wormhole, teori relativitas Einstein atau String Theory atau apalah tetek
bengeknya, karena genre film ini bukanlah science fiction. Genre film ini ya
drama cinta-cintaan antara Sore dan Jonathan. Endless time loopnya hanya
pemanis.
Berbagai
cara berusaha dilakukan Sore, tapi selalu gagal. Setiap kali gagal, ia akan
terbangun di ranjang Jonathan dan Sore harus menjelaskan siapa dirinya berulang
kali. Mirip seperti film 50 First Date (2004) gitu kali ya.
Ada
yang bikin saya iri dengan film ini.
Pertama,
Jonathan yang bekerja sebagai fotografer di Kroasia. Sebagai sarjana ilmu
komunikasi yang mengambil bidang kajian jurnalistik, cita-cita saya ingin jadi
fotografer kayak Jonathan. Mengambil foto-foto aurora di Artik. Tapi apa daya?
Sewaktu kuliah, saya belum punya kamera DSLR. Saya malah sempat menghilangkan
kamera DSLR saat naik gunung dan kamera pocket saat acara kampus. Uang jajan
saya saat kuliah jadi harus nyicil buat ganti kerugiannya deh hahahahaha. Saya
juga tidak punya kepintaran luar biasa macam Maudy Ayunda atau Stephen Hawking untuk
apply beasiswa keluar negeri. Hahaha jadinya ya gitu deh.
Kedua,
saya iri dengan Jonathan. Bisa punya istri secantik dan sebaik Sore. Sheila
Dara really good doing her job! Apalagi, tidak sedikit adegan Sheila Dara dalam
film ini menggunakan bahasa Kroasia. Pronunciationnya pun sangat bagus, udah
kayak akamsi Kroasia aja. Selain itu, pilihan baju yang ia gunakan benar-benar
bagus. Modis bangetlah!
Kenapa
saya iri? Ya tentu tidak munafik. Saya tidak, atau setidaknya, belum memiliki
dua hal diatas. Jadinya ya gitu deh.
Sore:
Istri dari Masa Depan (2025) mengingatkan saya akan film Aston Kutcher yang
berjudul The Butterfly Effect (2004), film Eric Bana yang berjudul The Time
Traveler's Wife (2009) dan film Rachel McAdams yang berjudul About Time (2013).
Saya gak tahu ya, tapi mungkin kreator film Sore: Istri dari Masa Depan,
sedikitnya terinspirasi dari film-film itu, maupun film-film sejenis lain
dengan tema saya. There’s nothing new under the sun.
Anyway,
gak cuma akting Sheila Dara aja yang juga bagus, tapi akting Dion Wiyoko juga. Sengat
saya, saya sendiri baru menonton film Dion Wiyoko selain Sore: Istri dari Masa
Depan (2025) itu film Susi Susanti-Love All (2019). Tapi ya film ini
membuktikan ia sebagai aktor piawai.
Sore:
Istri dari Masa Depan (2025) adalah satu dari sedikit film Indonesia yang bikin
saya takjub menahan nafas, apalagi di bagian endingnya yang menguras emosi.
Sentuhan lagu “Terbuang dalam Waktu” karya Barasuara benar-benar magis! Semagis
“My Heart Will Go On” Celine Dion pada film Titanic atau “You’ll be in My Heart”
Phil Collins pada film Tarzan yang benar-benar menguras air mata. Apalagi Sentuhan
lagu “Terbuang dalam Waktu” ini benar-benar pas! Padahal setahu saya lagu ini
dibuat sebelum film ini.
Diantara
segala kesulitan hidup yang saya alami, dan tentunya yang dialami miliaran
manusia diluar sana selain saya, menonton Sore: Istri dari Masa Depan (2025)
bikin saya berharap, bahwa semoga saya bisa memiliki apa yang Jonathan dan Sore
milki satu sama lain.
0 Comments