They
said, “Disney in the 90s actually conveyed emotions, feelings, and were so
passionate. You can feel the romance” and that’s really is. It is magic.
One of them is Aladdin (1992).
Aladdin
adalah salah satu film animasi Disney terbaik menurut saya. Cerita yang
diadaptasi dari Arabian Nights atau 1001 Malam ini memang banyak versi selama
berabad-abad. Mulai dari versi Fujiko F. Fujio dalam Dorabian Night, versi
dalam game Crash Bandicoot 3, sampai versi Disney (versi animasi dan adaptasi
live-actionnya). Namun versi animasi Disney tahun 90annya inilah yang saya
maksud sebagai yang terbaik.
Tentu,
pendapat ini saya bias. Saya pertama kali nonton ini ya tahun 90an, saat saya
di bangku TK atau bangku SD. Persisnya kapan saya lupa. Tapi dilihat dari
kacamata tahun 2026 pun, saya rasa, film ini benar-benar magic.
Siapa
anak 90an yang gak kena magic dari film ini? Banyak Generasi Mileneal bahkan
Gen Z yang memutar lagu I can Show You the World dalam resepsi pernikahannya,
termasuk beberapa teman SMA dan kuliah saya. Pastinya mereka terinspirasi dari
film ini bukan? Mereka sudah memimpikan hal ini sejak masih kanak-kanak.
Betapa
indahnya ketika sang pria menyanyikan lagu ini di hadapan sang wanita dimana ia
berkata “I can show you the world. Shining, shimmering, splendid. Tell me,
princess, now when did You last let your heart decide?” sambil memegang
tangannya seolah berkata “Ayo kita eksplorasi dunia ini bersama-sama!”
It
really is, magic.
Premis
ceritanya sederhana, dalam artian mampu dicerna oleh anak-anak pada masa itu. Tentang
impian seorang rakyat jelata bernama Aladdin yang capek hidup miskin. Tentang
seorang Princess yang capek hanya dikurung di istana seperti hewan ternak.
Tentang keinginan yang tak kesampaian, sehingga harus minta bantuan Jin.
Saya
gak tahu kenapa, Aladdin ini jauh lebih berkesan dibanding cerita animasi
Disney lainnya macam Snow White and the Seven Dwarfs (1937), Cinderella (1950),
Sleeping Beauty (1959), The Little Mermaid (1989), Beauty and the Beast (1991),
Pocahontas (1995), maupun Mulan (1998).
Sebelum
Aladdin dan Princess Jasmine tampil sebagai animasi Disney, Sang Pangeran
selalu “pangeran betulan”, sebut saja Prince Eric dalam The Little Mermaid maupun
pada animasi Disney lainnya macam Sleeping Beauty, Snow White dan Cinderella.
Aladdin ini beneran rakyat jelata, ia tidak sekolah dan gak punya ilmu pedang
ama sekali ala-ala knights Eropa.
Speaking
of Europe, sebelum Aladdin muncul, cerita animasi Disney terlalu Europe-Centric.
Terlalu White People. Terlalu Western. Aladdin ini technically Middle East,
Timur Tengah, atau Asia. Non-Western. Non-White People. Something new. Sesuatu
yang baru saat itu. Bukan Pangeran. Bukan Eropa. Bukan orang kulit putih.
Mungkin itu? Ditambah premis cerita dan soundtracknya yang beneran magic, yang
saking magicnya saya gak bisa lagi menjabarkan apa alasannya.
Ketika
dewasa, premis ceritanya ternyata tidak sesederhana itu. Tentang Agrabah (versi
fiksi dari Baghdad pada masa Islamic Golden Age) sebagai pusat peradaban dunia
saat itu tapi punya sisi gelap dimana Aladdin harus mencuri makanan hanya untuk
bisa makan. Tentang Sultan yang terlalu sibuk mengurusi Princess Jasmine
alih-alih memikirkan perekonomian masyarakat Agrabah. Tentang Princess Jasmine
yang berusaha mendobrak sistem patriarki dan seksisme dunia, khususnya Timur
Tengah. Tentang Jafar yang frustasi melihat Sultan yang gak tahu prioritas dalam
memimpin Agrabah. Tentang Jin, makhluk ghaib yang punya kekuatan kosmik luar
biasa yang dipercaya keberadaan dalam Agama Abrahamic selama ribuan tahun.
Pertanyaannya,
kapan Disney bisa beneran bikin film animasi semagic ini lagi alih-alih film
penuh agenda-agenda gak jelas? Ya meski animasi Disney klasik ini pun gak lepas
dari kontroversi seperti propaganda-propaganda terselubung maupun pesan
terselubung yang bisa disimak dari ilmu semiotika komunikasi yang sudah dibahas
banyak YouTuber selama bertahun-tahun ini sih.
0 Comments