Katanya,
“Always re-read your favourite books and re-watch your favourite movies or
series at different stages of your life. The plot never changes but your
perspective does” dan hal tersebut benar adanya.
Jadi
beberapa hari ini saya marathon Trilogy Kungfu Panda. Kita sepakati dulu, bahwa
Trilogy Kungfu Panda ini merupakan trilogy film animasi terkeren pada zamannya,
bahkan hingga sekarang. Ceritanya ringan, animasinya ciamik, dan banyak
jokes-jokes segar. Tapi saat saya menontonnya ulang pada tahun 2026, semuanya
berubah.
Pada
film pertama Kungfu Panda (2008), semua orang setuju bahwa Tai Lung adalah
villain. Tapi ternyata, ia bukan villain! Villain sesungguhnya buat saya ya
Master Shifu dan Master Oogway. Sejak kecil, Tai Lung didoktrin harapan palsu
oleh Master Shifu bahwa ia akan menjadi Dragon Warrior karena bakat kungfunya.
Eh ketika dewasa, Master Oogway terang-terangan menolak Tai Li karena sifat
jeleknya dianggap tidak pantas menjadi Dragon Warrior.
Bagi
saya, ini kesalahan dan dosa dari Master Shifu. Ngapain ia ngasih harapan palsu
pada Tai Lung sejak ia kecil? Ibarat mengimingi-imingi seseorang bahwa dengan
belajar keras dengannya ia dijamin bakalan masuk ITB, tapi begitu hasil ujian
masuk ITB diumumkan, ia gagal total.
Ini
juga dosa Master Oogway. Kalau sifatnya sebegitu jeleknya, artinya lo gagal sebagai
master kungfu! Lo gagal mendidik Master Shifu! Udah gitu pake acara kabur
segala waktu Tai Lung mau minta pertanggungjawaban pada Master Shifu. Master
kungfu apanya?
Pada
film kedua Kungfu Panda (2011), villainnya adalah merak putih bernama Lord
Shen. Buat saya, ia lebih tragis lagi. Singkatnya, Lord Shen ini semacam
pewaris tahta kerajaan. Namun sebuah ramalan menyebutkan bahwa alih-alih
membawa kejayaan bagi rakyatnya, Lord Shen diramalkan bahwa ia akan membawa kehancuran
bagi rakyatnya, makanya kedua orang tua Lord Shen ‘membuangnya’ dan ia bertekad
balas dendam pada orang tua dan tanah kelahirannya.
Disebutkan
secara spesifik bahwa Lord Shen suatu saat akan dikalahkan oleh Ksatria Hitam
dan Putih alias seekor panda. Makanya, Lord Shen berusaha melakukan genosida
pada para panda diseluruh dataran China, yang membuat Po alias The Dragon
Warrior terpisah dari orang tua kandungnya saat ia masih bayi.
Lord
Shen yang malang! Kalau Lord Shen digadang-gadang akan membawa kehancuran bagi
tanah kelahirannya, artinya ini orang tua Lord Shen yang gagal mendidik anak
dong? Kok orang tua Lord Shen malah gaslightingdan playing victim? Buat saya, kedua
orang tua Lord Shen ini tipikal orang tua durhaka yang gagal mendidik anak.
Pada
dasarnya, seorang anak itu tanggung jawab orang tua. Mau sampai usia 40
sekalipun, kalau anak minta uang, ya itu tanggung jawab orang tua. Orang tua
yang pingin punya anak, kan? Jadi ya anak itu gak minta dilahirkan. Anak gak
berhutang budi apapun pada orang tua. Sebaliknya, orang tualah yang hutang budi
ke anak. Rasanya gak habis pikir pada kedua orang tua Lord Shen! Lagipula, saya
yakin, di dunia nyata lebih banyak orang tua durhaka dibanding anak yang
durhaka.
Lalu
ya Lord Shen ini mirip sekali dengan kisah Firaun. Firaun ini punya kuasa atas
tanah kelahirannya. Ia merupakan seorang Raja. Dan ia diramalkan bahwa kelak
suatu saat akan digulingkian kekuasaannya oleh seorang anak laki-laki, makanya
begitu mendengar ramalan itu, ia berusaha genosida seluruh anak laki-laki yang baru
lahir di Mesir. Sama seperti kisah Lord Shen dan Po.
Lord
Shen adalah korban. Ia dibuang oleh orang tuanya karena sebuah ramalan yang
bahkan belum tentu terjadi. Kedua orang tuanya gagal, dan sayangnya, Lord Shen
memilih untuk percaya ramalan itu sehingga ia melakukan genosida. Lord Shen adalah korban yang gagal
berdamai dengan lukanya, dan akhirnya menciptakan luka yang jauh lebih besar
bagi orang lain.
Terakhir,
pada film ketiga Kungfu Panda (2016), diceritakan bahwa ratusan tahun yang
lalu, Master Oogway punya rekan seperjuangan bernama General Kai. Master Oogway
terluka parah. General Kai menyelamatkan nyawa Master Oogway dengan membawanya
ke Desa Panda yang tersembunyi. Disana, mereka diajari ilmu chi. Namun General
Kai berusaha memanfaatkan ilmu chi tersebut untuk kepentingannya sehingga Master
Oogway terpaksa mengirim General Kai ke dunia lain.
Dari
sudut pandang saya, Master Oogway ini gak tahu terimakasih sama sekali! Dia hutang
nyawa pada General Kai dan ini balasannya? Dan selama ratusan tahun kemudian
saat kisah Kungfu Panda ini dimulai, ia dikenal sebagai master kungfu terbaik
di daratan China tanpa cacat bak seorang Buddha, bak seorang Nabi dan Rasul,
padahal ya ia sendiri tipikal orang gak tahu terimakasih!
Iya,
saya tahu General Kai salah, tapi kenapa Master Oogway gak berusaha ceramah
panjang lebar dulu pada General Kai? Biar bagaimanapun, Master Oogway ini punya
hutang nyawa pada General Kai, lho? Adalah sebuah ironi bahwa Master Oogway
yang dikenal sebagai sosok bijak ternyata gagal menyelamatkan sahabatnya
sendiri dari jalan yang salah dan ia seolah berusaha menutupi cacatnya di masa
lalu tersebut karena jangankan masyarakat umum, Master Shifu aja gak tahu
kegagalan Master Oogway tersebut di masa lalu.
Master
Oogway tahu bahaya dari tindakan General Kai. Ia sadar bahwa ia tak bisa
menyelamatkan semua orang, termasuk temannya sendiri. Jadi ia memilih untuk
melenyapkan temannya demi menyelamatkan dunia. Itu cacat Master Oogway.
Setelah
menonton ulang Trilogy Kungfu Panda, saya mulai mempertanyakan ulang siapa
sebenarnya yang layak disebut villain. Tai Lung? Ia korban dari mimpi basah
Master Shifu, yang menginginkan anak didik yang ia anggap sebagai anak kandung
sebagai Dragon Warrior. Lord Shen, ia korban dari kegagalan orang tua mendidik
anak. General Kai? Ia persis seperti Madara Uchiha yang terpaksa dikalahkan
oleh Hashirama Senju.
0 Comments