Zendaya dan Robert Pattinson bukan nama baru bagi penggemar film. Keduanya sama-sama masih muda dan terkenal lewat berbagai film besar yang mereka bintangi seperti film-film keluaran DC maupun Marvel.

Hari ini saya berkesempatan menonton film
dimana mereka beradu akting berjudul The Drama yang bercerita tentang lika-liku
perjalanan mereka menjelang pernikahan. Setelah nonton film ini saya cuma bisa
bilang, “Film in harus ditonton siapapun yang punya rencana menikah baik
dalam waktu dekat maupun lambat!”
Disclaimer.
Sampai tulisan ini selesai saya tulis, saya sendiri belum menikah, makanya saya
bilang semua yang berencana menikah baik dalam waktu dekat maupun lambat harus
nonton film ini.
Sudah
siap dengan masa lalu pasangan?
Pada
film ini, Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) sudah mantap untuk
menikah. Dibantu wedding organizer setempat, mereka sibuk mempersiapkan segala
sesuatunya, mulai dari dokumen pernikahan, foto keluarga, resepsi pernikahan
dan segala tetek bengeknya.
Ditengah
kesibukan tersebut, mereka nongkrong bareng bestienya, Mike (Mamoudou Athie)
dan Rachel (Alana Haim). Mereka kemudian menceritakan aib masa lalunya
masing-masing buat seru-seruan. Disana, Charlie mendapati bahwa pada saat
remaja, Emma pernah nyaris bikin kekacauan di sekolah. Bukan kekacauan biasa,
Emma ini nyaris bikin penembakan masal di sekolah bermodalkan senapan milik
ayahnya yang bekerja sebagai tentara untuk nembakin tukang bully sekolah. Sejak
mengetahui hal tersebut, persiapapan pernikahan mereka berdua langsung goyang.
Charlie
jadi takut buat menikah dengan Emma. Pada pertemuan pertama, Charlie bisa
menerima kekurangan Emma yang salah satu telinganya tuli. Namun saat mendapati
bahwa tulinya telinga Emma karena kecelakaan saat merencanakan penembakan masal
di sekolahnya, ia jadi takut pada Emma. Ia takut, jika sudah menikah, ia akan
ditembak atau ditusuk Emma.
Demikian
juga Emma. Ia jadi takut juga buat menikah. Takut orang tua, mertua, maupun
keluarga besar kedua belah pihak tahu masa lalunya, takut jika sewaktu-waktu ia
kelepasan dan menghabisi Charlie, dan ia pun jadi ilfeel pada Charlie yang
ternyata gampang banget menangis melebihi dirinya ditengah persiapan pernikahan
yang penuh tekanan.
Pada
dasarnya, film ini memang “hanya” memanfaatkan nama besar Zendaya dan Rober
Pattinson untuk berperan dalam film drama cinta-cintaan menjelang pernikahan
seperti puluhan film dengan premis sejenis lainnya yang sudah biasa kita
tonton.
Namun
film ini membuat saya merenung, “Jika saya berhasil menemukan seorang wanita
yang sesuai yang saya mau, dia pun sama-sama merasa begitu, dan kedua belah
keluarga sama-sama setuju, apakah saya siap menerima masa lalunya?”
Tak
ada gading yang tak retak. Bisa saja calon pasangan kita ini punya masa lalu
yang kelam. Bisa saja ia mantan narapidana yang pernah mendekam di penjara.
Bisa saja ia pernah gagal menjalin rumah tangga dengan pasangan sebelumnya.
Bisa saja ia punya trauma di masa lalu yang membutuhkan penanganan khusus dari
profesional seperti psikolog maupun psikiater, bukan? You named it, ada seribu
hal lainnya yang tak kalah menakutkan dari hal yang sudah saya sebutkan.
Pertanyaannya,
“Siapkah kita menerimanya?”, karena biar bagaimanapun, kalau bisa,
pernikahan itu ya sekali seumur hidup sampai maut memisahkan. Jangan sampai
pernikahan bubar hanya karena kehadiran orang lain apalagi KDRT. Makanya,
sebelum menikah, pastikan kita semua sudah siap menerima masa lalu pasangan
kita masing-masing.
Sebelum
kesana, pastikan sudah stabil finansial!
Merasa
rumit dengan drama menjelang pernikahan yang dialami Charlie dan Emma? Ya tentu
saja! Itulah bagusnya film ini. Membuat penonton saya tersenyum, tertawa,
hingga merenung.
| Apartemen Charlie dan Emma |
Tapi
sebelum mikir kesana, Charlie dan Emma di film ini diceritakan sudah stabil secara
finansial. Mereka gak terlalu pusing mikirin biaya resepsi pernikahan atau mau
tinggal dimana setelah menikah. Stabil finansial bukan berarti gak ada masalah
menjelang pernikahan. Apalagi setelahnya.
Yang
pasti, mereka beruda bukan kaum mendang-mending seperti kita karena penghasilan
mereka berdua pastinya diatas UMR. UMR Kota Boston ya, bukan UMR Yogyakarta
yang kalau saya kritisi pasti ditanya “KTP-mu ngendi?”
0 Comments