Zendaya dan Robert Pattinson bukan nama baru bagi penggemar film. Keduanya sama-sama masih muda dan terkenal lewat berbagai film besar yang mereka bintangi seperti film-film keluaran DC maupun Marvel. 

Uploading: 394262 of 394262 bytes uploaded.

Hari ini saya berkesempatan menonton film dimana mereka beradu akting berjudul The Drama yang bercerita tentang lika-liku perjalanan mereka menjelang pernikahan. Setelah nonton film ini saya cuma bisa bilang, “Film in harus ditonton siapapun yang punya rencana menikah baik dalam waktu dekat maupun lambat!

Disclaimer. Sampai tulisan ini selesai saya tulis, saya sendiri belum menikah, makanya saya bilang semua yang berencana menikah baik dalam waktu dekat maupun lambat harus nonton film ini.

Sudah siap dengan masa lalu pasangan?

Pada film ini, Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) sudah mantap untuk menikah. Dibantu wedding organizer setempat, mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari dokumen pernikahan, foto keluarga, resepsi pernikahan dan segala tetek bengeknya.

Ditengah kesibukan tersebut, mereka nongkrong bareng bestienya, Mike (Mamoudou Athie) dan Rachel (Alana Haim). Mereka kemudian menceritakan aib masa lalunya masing-masing buat seru-seruan. Disana, Charlie mendapati bahwa pada saat remaja, Emma pernah nyaris bikin kekacauan di sekolah. Bukan kekacauan biasa, Emma ini nyaris bikin penembakan masal di sekolah bermodalkan senapan milik ayahnya yang bekerja sebagai tentara untuk nembakin tukang bully sekolah. Sejak mengetahui hal tersebut, persiapapan pernikahan mereka berdua langsung goyang.

Charlie jadi takut buat menikah dengan Emma. Pada pertemuan pertama, Charlie bisa menerima kekurangan Emma yang salah satu telinganya tuli. Namun saat mendapati bahwa tulinya telinga Emma karena kecelakaan saat merencanakan penembakan masal di sekolahnya, ia jadi takut pada Emma. Ia takut, jika sudah menikah, ia akan ditembak atau ditusuk Emma.

Demikian juga Emma. Ia jadi takut juga buat menikah. Takut orang tua, mertua, maupun keluarga besar kedua belah pihak tahu masa lalunya, takut jika sewaktu-waktu ia kelepasan dan menghabisi Charlie, dan ia pun jadi ilfeel pada Charlie yang ternyata gampang banget menangis melebihi dirinya ditengah persiapan pernikahan yang penuh tekanan.

Pada dasarnya, film ini memang “hanya” memanfaatkan nama besar Zendaya dan Rober Pattinson untuk berperan dalam film drama cinta-cintaan menjelang pernikahan seperti puluhan film dengan premis sejenis lainnya yang sudah biasa kita tonton.

Namun film ini membuat saya merenung, “Jika saya berhasil menemukan seorang wanita yang sesuai yang saya mau, dia pun sama-sama merasa begitu, dan kedua belah keluarga sama-sama setuju, apakah saya siap menerima masa lalunya?”

Tak ada gading yang tak retak. Bisa saja calon pasangan kita ini punya masa lalu yang kelam. Bisa saja ia mantan narapidana yang pernah mendekam di penjara. Bisa saja ia pernah gagal menjalin rumah tangga dengan pasangan sebelumnya. Bisa saja ia punya trauma di masa lalu yang membutuhkan penanganan khusus dari profesional seperti psikolog maupun psikiater, bukan? You named it, ada seribu hal lainnya yang tak kalah menakutkan dari hal yang sudah saya sebutkan.

Pertanyaannya, “Siapkah kita menerimanya?”, karena biar bagaimanapun, kalau bisa, pernikahan itu ya sekali seumur hidup sampai maut memisahkan. Jangan sampai pernikahan bubar hanya karena kehadiran orang lain apalagi KDRT. Makanya, sebelum menikah, pastikan kita semua sudah siap menerima masa lalu pasangan kita masing-masing.

Sebelum kesana, pastikan sudah stabil finansial!

Merasa rumit dengan drama menjelang pernikahan yang dialami Charlie dan Emma? Ya tentu saja! Itulah bagusnya film ini. Membuat penonton saya tersenyum, tertawa, hingga merenung.

Apartemen Charlie dan Emma

Tapi sebelum mikir kesana, Charlie dan Emma di film ini diceritakan sudah stabil secara finansial. Mereka gak terlalu pusing mikirin biaya resepsi pernikahan atau mau tinggal dimana setelah menikah. Stabil finansial bukan berarti gak ada masalah menjelang pernikahan. Apalagi setelahnya.

Yang pasti, mereka beruda bukan kaum mendang-mending seperti kita karena penghasilan mereka berdua pastinya diatas UMR. UMR Kota Boston ya, bukan UMR Yogyakarta yang kalau saya kritisi pasti ditanya “KTP-mu ngendi?