Kemarin, bersama Komunitas Layarkita, saya menonton film Jepang berjudul Tasogare No Seibei (2002) di Museum Konferensi Asia Afrika. Tanpa berusaha cari tahu premis film, list cast dan director, dan tetek bengek lainnya, saya datang bermodalkan bawa nyawa doang kesana.

Seperti puluhan atau mungkin ratusan film Jepang yang saya tonton, entah itu genrenya drama, horror, ataua action, film Jepang punya pace yang sangat lambat dibanding film Hollywood. Film Jepang memang bukan buat semua orang. Setidaknya, itu yang saya rasakan sejak kecil sampai sekarang. Demikian juga berjudul Tasogare No Seibei.

Tasogare No Seibei bercerita tentang seorang samurai bernama Seibei Iguci (Hiroyuki Sanada) yang baru saja kehilangan istrinya akibat penyakit paru-paru. Ia pun sibuk mengurus kedua putrinya yang masih pada kecil dan mengurus ibunya yang mengalami demensia dan seringkali tidak mengingat siapa dirinya. Setelah selesai ngantor, prioritas Seibei ya urus keluarganya dan ia tidak malu untuk melakukan pekerjaan domestik sebisanya. Pokoknya, beda banget dengan stereotype samurai yang selama ini terkesan maskulin, macho dan serba patriarki.

Kalau kalian berharap bakal ada adegan pedang-pedangan kayak live action Rurouni Kenshin atau The Last Samurai, simpan ekspektasi kalian. Film ini ya film drama. Adegan pedang-pedangannya ada, tapi sangat lambat dan koreografinya tidak indah sama sekali. Gak ada Hiten Mitsurugi-ryƫ atau pedang-pedangan ala Kill Bill karya Quentin Tarantino.

Film ini berfokus pada sengsaranya samurai kelas bawah macam Seibei ditengah ketidakpastian sosio – ekonomi serta politik di penghujung era Tokugawa, beberapa dekade sebelum civil war Restorasi Meiji yang jadi inspirasi manga dan anime Rurouni Kenshin. Samurai pada era ini banyak yang gak pernah berperang sama sekali atau membunuh orang dengan katanyanya. Cuma petantang-petenteng bawa katana saja.

Baca tulisan saya di Mojok: Susah Dimungkiri bahwa ‘Rurouni Kenshin’ Adalah Anime Terbaik Era 90-an

Meski begitu, pada era ini, samurai adalah kelas sosial yang diturunkan turun temurun dan kastanya di atas kelas petani dan pedagang. Jika ayahmu samurai, kamu otomatis jadi samurai. Analoginya bisa dibilang, “Jika ayahmu PNS, makan kamu juga otomatis jadi PNS” dan samurai pada era ini banyak yang gabut seperti menjaga gudang, mencatat stok opname gudang, hingga mengawasi petani dan nelayan bekerja untuk tuan tanah. Samurai pada era ini pun diberi privilege khusus untuk bisa membaca dan menulis, beda dengan kelas petani yang gak bisa baca tulis sama sekali.

Sebelum nonton Tasogare No Seibei, saya menyangka kelas samurai Jepang itu seperti kelas bangsawan atau kelas knight Eropa yang punya tanah sendiri, memakai pedang, baju zirah serta berkendara naik kuda kemana-mana. Memang sih, pada film ini, Seibei Iguci digambarkan punya rumah sendiri yang cukup luas dibandingkan masyarakat Jepang pada abad 21 dan punya asisten rumah tangga yang standby bisa disuruh-suruh.

Tapi dari kacamata zaman sekarang, penghasilan Seibei Iguchi ini bisa dibilang gak nyampe UMR sama sekali. Beda banget dengan tuan tanah tempatnya mengabdi. Ia harus berhutang untuk bisa membiayai pemakaman istrinya, ia harus berhutang untuk sekadar beli beras, dan ia bahkan terpaksa menjual katananya untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Kapitalisme sudah ada di Jepang bahkan sebelum revolusi industri sampai disana. ~wqwqwq

Seibei Iguchi sendiri adalah anomali. Di tengah masyarakat Jepang yang patriarki dan misoganis, ia sangat mendorong kedua anaknya untuk baca buku, mempelajari Konfusius saat perempuan pada masa itu difokuskan untuk belajar mengerjakan pekerjaan domestik dalam rumah. Seibei sadar, bahwa era samurai akan segera berakhir, dan anak-anaknya nanti harus punya kemampuan bernalar dan berpikir kritis supaya bisa survive ditengah gempuran modernitas dan globalisasi.

 Seibei Iguchi juga berani membela teman masa kecilnya, Tomoe Linuma (Rie Miyazawa) yang sering mengalami KDRT oleh suaminya. Ia gak takut meski suami Tomoe ini seorang samurai yang lebih tua dan punya pangkat lebih tinggi. Dari sini, Seibei terpaksa menunjukkan kemampuan berpedangnya. Dikiranya cupu, gak tahunya suhu. Dikiranya Nobita Nobi, padahal dia Kenshin Himura. Kira-kira gitu.

Pada intinya, samurai ini tuh gak 100% jahat dan gak 100% baik. Samurai gak lebih dari anjing pesuruh tuan tanah atau bahkan shogun Jepang. Kalau disuruh bunuh lawan politiknya, ya harus dilakukan. Kalau disuruh harakiri, ya harus dilakukan. Gak bisa menolak. Menolak artinya mati.

Baca tulisan saya di Mojok: Nonton Rurouni Kenshin Saat Anak-anak dan Dewasa Itu Beda Sensasinya

Tasogare No Seibei bukan film samurai yang bercerita tentang tokoh utamanya yang jago berkelahi.  Ia adalah anomali, dimana seorang samurai sengaja pulang cepat tanpa ikut minum-minum dengan sesama samurai lainnya untuk bisa cepat memandikan anak, makan malam dengannya, bercengkrama dengan ibunya, pokoknya sandwich generation versi feodal Jepang.

Nonton film ini bikin saya sadar kalau jadi samurai itu gak ada keren-kerennya sama sekali. Saya membayangkan, jika saya hidup pada Perang Sekigahara atau era Tokugawa, atau bahkan era Restorasi Meiji, mungkin saya akan bernasib seperti Seibei alih-alih jadi legenda macam Miyamoto Musashi, Ieyashu Tokugawa, Nobunaga Oda, Masamune Date, atau Yukimura Sanada. Bisa aja saat saya berumur 15 tahun saya mati di medan pertempuran? Kena sabetan katana, kena tusuk shuriken di dahi, atau mati kena demam berdarah. ~wqwqwq

Biar bagaimanapun, para legenda yang saya sebutkan di atas itu punya keberuntungan timing yang pas selain punya otot dan otak. Sebab dalam pertarungan antara hidup dan mati, terlalu cepat sepersekian detik atau terlalu lambat sepersekian detik itu bisa menentukan hidup dan matinya seseorang.