Saya
gak ingat persisnya kapan dan gimana, tapi ketika lagi DM-DMan ngobrolin
film-film yang bikin trauma dengan teman saya yang merupakan anak ITB, beliau
menyebut Aftersun sebagai film yang bikin trauma.
“Ok
noted” dan beberapa minggu/beberapa bulan kemudian, intinya saya nonton film
itu. And she was goddamn right.
Aftersun
(2022) bercerita tentang Calum (Paul Mescal) dan Sophie (Frankie Corio),
seorang ayah dan anak yang lagi liburan ke Turki. Liburan ke Turki ini bukan
liburan biasa karena Calum telah berpisah dengan istrinya, jadi ia ngajakin
Sophie liburan bareng biar ada intimate moment gitu deh. Oh iya, Calum dan Sophie
ini berasal dari Skonlandia.
Calum
tergolong masih muda. Di film ini, ia baru berusia 31 tahun sedangkan Sophie
sudah berusia 11 tahun. Untuk ukuran orang Eropa atau Barat, ya jelas sangat
langka. Tapi Calum bukan tipe ayah mokondo yang kabur gitu aja setelah cerai.
Ia selalu berusaha hadir untuk Sophie. Demikian juga Sophie, ia pun sangat
menyayangi ayahnya. Lalu sedihnya dimana? Pokoknya sih harus nonton sampai
menit akhir buat tahu sedihnya dimana.
Gak
ada adegan dramatis picisan macam tiba-tiba salah satunya ketabrak bus atau
tiba-tiba divonis kanker stadium empat. Gak ada quote cantik filosofis antara
ayah dan anak. Kita disuguhkan adegan percakapan yang kesannya biasa aja. Kita
dipaksa untuk melihat hubungan antara ayah dan anak tersebut lewat memori
Sophie saat ia berusia 11 tahun.
Di
film ini, baik Calum atau Sophie sering merekam satu sama lain lewat handycam tahun
90an atau 2000an awal yang tentu saja direkam bukan buat dibikin vlog kekinian
di YouTube, tapi untuk dikonsumsi secara pribadi aja. Banyak shaking atau
goyang-goyang dan ya adegan-adegan absurd. Adegan di handycam itu banyak yang
direkam ketika mereka berleha-leha di kamar hotel mereka. Charlotte Wells sebagai
sutradara sangat piawai menyelipkan momen-momen awkward di film. Pokoknya susah
dijelasin kalau kamu gak nonton sampai akhir.
Aftersun
bukan tipikal film yang bikin kita menangis tersedu-seduh di tengah film. Cara
kerja film ini tuh dia meledak satu hingga dua jam setelah credit scene selesai
karena kita mencoba mencernanya terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya
terjadi.
Melihat
Calum dan Sophie, bikin saya sendiri punya paradoks aneh. Disatu sisi, saya kepingin
punya anak perempuan yang cantik, lucu dan pintar kayak Sophie, yang akan saya
sayangi segenap jiwa dan raga. Tapi disatu sisi, saya gak pingin punya anak
kayak Sophie karena takut gak bisa membesarkan dan membahagiakannya. Di usia
segini saya sadar bahwa dibalik enaknya bercinta, dibalik enaknya penetrasi
vaginal, terdapat tanggungjawab besar untuk membahagikan lawan main seks kita
itu sekaligus hasil janinnya kelak. Jangan cuma mau enaknya doang!
Seberapa traumatisnya sih film ini? Maybe seperti Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) (1988), Revolutionary Road (2008), atau Blue Valentine (2010), yang kayaknya cukup ditonton sekali seumur hidup, atau ya at least tiap 10 tahun sekali saja. Damagenya soalnya gak ngotak. Film horror sih harusnya ini.
Bahkan
lagu Under Pressure karya Queen dan David Bowie langsung terasa beda setelah
nonton film ini.
0 Comments