30 tahun lalu, saat pertama kali mendengarkan Guns N' Roses, saya merasa biasa saja. Dalam artian, Guns N' Roses dan segala ketenaran serta kontroversinya hanyalah satu dari sekian banyak band yang saya dengarkan buat asyik-asyikan. Entah buat roadtrip atau mainin lagunya di Guitar Hero. Tapi sekarang, rasanya, begitu suram, terutama dalam lagu Estranged. Dulu Estranged terdengar seperti lagu rock yang panjang dan keren. Sekarang, setelah melewati usia 30, justru bagian tentang kesendirian dan sesuatu yang perlahan menjauh terasa jauh lebih dekat.

Saya sendiri menganggap ketiga lagu Guns N' Roses, Don’t Cry, November Rain dan Estranged adalah trilogi. Bukan trilogi dalam arti ketiganya secara resmi bercerita tentang satu kisah yang sama, tapi karena lagunya sendiri tergolong panjang dan sangat sinematik bak film Hollywood. Untuk ukuran tahun 90an, video klip mereka sangatlah mahal, apalagi banyak adegan seperti ledakan mobil, pengambilan gambar di laut, dan segala hal videografik lainnya.

Ok, kalian semua tahu Estranged itu kayak gimana video klipnya. Diawali dari adegan Axl Rose yang somehow digertebek SWAT sambil berkata “When you're talkin' to yourself and nobody's home”

Lalu ada adegan Axl Rose dibawa ke semacam rumah sajit jiwa, lalu ada adegan dia putus asa dan lompat ke laut, berusaha diselamatkan temannya dengan pelampung tapi dia memilih untuk naik sekoci seorang diri di tengah laut sambil berkata, “'Cause I see the storm is getting closer. And the waves, they get so high. Seems everything we've ever known's here. Why must it drift away and die?”

Saya bukan ahli musik. Saya juga bukan ahli semiotika. Saya juga gak kenal Axl Rose sama sekali, hanya baca biografinya via majalah musik atau dokumenter via YouTube, tapi rasanya Estranged ini merangkum frustasinya Axl Rose sebagai seorang rockstar. Ia punya ketenaran dan uang, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri atas rasa sepi. Ada banyak hal yang tak bisa kita dapatkan sekalipun bergelimang harta serta popularitas.

Tentu, nasib hidup saya beda dengan Axl Rose. Saat ini saya masih sangat jauh dari kekayaan dan ketenaran yang dimiliki Axl Rose in his prime maupun detik ini. Tapi rasanya saya paham, bahwa di atas 30 tahun, sekalipun punya penghasilan stabil, katakanlah di atas UMR, ada banyak hal yang tak bisa diwujudkan. Teman SMA maupun kuliah yang jadi asing, sepupu hanya bisa diajak bicara setahun sekali saat Idul Fitri, hingga susahnya cari ketenangan di tengah dunia yang serba kapitalis.

Mungkin, jika Axl Rose, Slash, Dizzy maupun Duff McKagan atau penggemar Guns N' Roses maupun penggemar musik rock lainnya baca ini akan mentertawakan saya. Tapi itulah yang saya rasakan.

Semakin hari, saya sering “Talkin' to yourself” dan ya di rumah saya benar-benar “Nobody’s home”. Saya bisa chat teman saya yang ada di Jepang dan Eropa dalam hitungan detik dan mereka juga bisa membalas dalam hitungan detik kalau lagu available, tapi mereka pun tidak 24 jam bisa available karena kesibukan ini itu. Saya bisa saja bercerita pada AI, tapi AI bukanlah manusia. Saya juga bisa bicara pada kucing jalanan yang beberapa tahun ini tinggal di rumah saya tapi ya mereka tetap bukanlah manusia.

Apalagi, ketika menonton video klip Guns N' Roses maupun video konser in their prime in 2026, ada banyak hal yang berubah. Axl Rose yang dulu kurus dan atletis kini sudah menua, begitu pula suaranya yang tidak lagi sama seperti ketika Guns N' Roses berada di puncak popularitasnya karena faktor usia dan itu hal yang sangat wajar. Slash dan banyak dari mereka yang saya lihat pada tahun 90an ketika album mereka meledak di MTV juga udah gak lagi di Guns N' Roses, meski ya Slash emang balik lagi tahhun 2016 sih. Tapi ngerti poinnya kan?

Rasanya seperti melihat rumah masa kecil kita yang wujudnya masih ada tapi sudah berpindah tangan ke orang lain. Atau, rumah masa kecil kita yang berubah jadi mall atau hotel bertingkat misalnya. Dan ya kita bisa kembali ke lokasi itu kapan saja, tapi semuanya sudah berubah. Lalu ya saya juga tidak bisa kembali ke masa lalu tersebut kecuali saya punya kekuatan kosmik untuk traveling back in time seperti teori fisika yang sering dikemukakan Albert Einstein, Call Sagan, atau Stephen Hawking.

Axl Rose berusia 32 tahun or semething saat Estranged dirilis pada tahun 1994. Saat ini saya hanya 2 tahun lebih tua dari Axl Rose saat itu. Mungkin itulah kenapa saya lebih mengerti? Ah ya, kalau Jin kayak di cerita Aladdin itu ada, kayaknya salah satu dari tiga permitaan saya adalah pingin ngobrol dengan Axl dengan bahasa Inggris saya yang blepotan ini untuk mengucapkan rasa terimakasih, lalu curhat tentang kehidupan dan tentu saja foto bareng lalu saya pamerkan pada dunia.