Film horror, pop culture dan budaya Indonesia mereduksi Malam Jumat susatu momen horror dimana pada Malam Jumat, seluruh entitas mistikal berkumpul dan sedang dalam prima sehingga kita semua dihimbau untuk waspada dan meningkatkan amalan ibadah agar terhindar dari gangguan entitas mistikal tersebut.

Pada tahun 90an, 80an atau era sebelumnya, saya rasa, itu relevan. Namun di tahun 2026, rasanya sudah tidak. Malam Jumat, baik di kota kecil ataupun kota besar, suasananya masih sangat ramai. Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti hingga lampu LED dan neon box para pegiat bisnis nyala terang benderang hingga lewat tengah malam. Jauh dari suasana mencekam ala film-film Suzzanna.

Buat saya, suasana sepi sesungguhnya itu bukanlah Malam Jumat, tapi Malam Senin.

Jumat malam atau Sabtu malam biasanya orang jalan-jalan bersama teman, pacar, atau keluarga. Hari Minggu pagi sampai minggu sore biasanya digunakan untuk beres-beres rumah, rebahan, atau kumpul keluarga sehingga Malam Senin terasa sangat sepi.

Sejak 30 tahun yang lalu, saya amati, mall, restoran, coffee shop atau jalanan terasa sangat sepi. Bahkan lebih sepi dibandingkan malam hari saat weekdays. Lalu lintas depan rumah saya terasa sangat sepi.

Semua orang sibuk memanfaatkan detik-detik terakhir hidup mereka pada akhir pekan sebelum besok dihajar oleh Senin alias Monster Day. Well, we’re not really hate Monday, we just really hate capitalism. Saya pun mengamini ini.

Sejak saya SD, saya sangat sedih ketika Minggu Malam tiba. Ia adalah detik-detik terakhir dari kebebasan saya karena besok, saya sudah harus berjuang mati-matian sejak subuh untuk sekolah.

Saat SD, saya bersekolah di sekolah swasta yang nilai kedisiplinannya masih ala-ala Orba, dimana gurunya sering berkata, “Sekolah di SD ini bisa kok santai Sabtu Minggu. Tapi ya Minggu jam 5 sore harus udah standby buat nyiapin besok hari” dan selama bertahun-tahun saya menjalani rutinitas itu dimana saya sudah packing dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari Senin, yang kemudian berkembang menjadi harus kuliah dan akhirnya bekerja.

Saat saya kuliah, saya juga melihat banyak mahasiswa menggerutu ketika Malam Senin tiba. Mereka yang berasal dari luar kota, harus berangkat besok Senin subuh untuk memulai perkuliahan pada pagi hari. Saat saya sudah bekerja, ada banyak pekerja yang berangkat sebelum adzan subuh berkumandang untuk berangkat kerja, terutama yang menghabiskan weekends bersama keluarga di luar kota.

Dan ya entah kenapa, kemacetan Senin pagi terjadi dimana-mana. Anak sekolah, anak kuliah, hingga para pekerja tumpah ruah di jalanan menuju tempat tujuannya masing-masing. Pokoknya, dimanapun, Senin pagi itu macetnya lebih macet dan semua orang serba terburu-buru.

Semua orang juga dalam keadaan terpaksa karena semua masih mengantuk karena kurang tidur. Semua masih belum puas dengan akhir pekannya, masih belum puas bermain atau kumpul bersama teman dan keluarga. Semua gak puas juga dengan gajinya yang tidak seberapa. Lalu semuanya berkumpul jadi satu di jalanan sehingga semuanya chaos.

Jadi, buat saya, Malam Senin alias Minggu malam itu benar-benar jauh lebih horror dibandingkan Malam Jumat. Hari Senin adalah hari dimana kita kehilangan diri kita yang sesungguhnya. Kita semua harus sekolah, kuliah, hingga bekerja. Ya tentu, ada orang yang juga bekerja pada weekend, tapi intinya adalah, kita semua dipaksa oleh kapitalisme untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai daripada kita mati kelaparan.

Tentu kita bisa aja posting quotes-quotes legendaris dari Karl Marx tapi hal tersebut tidak akan mengubah apa-apa. Berharap financial freedom dan passive income tanpa generational privilege is impossible. Semakin tua, semakin takut jadi miskin alih-alih takut dengan yang namanya demit.