Sewaktu saya SMP, di era DVD bajakan, saya sering melihat poster film 28 Days Later (2002) dan 28 Weeks Later (2006). Tapi karena poster filmnya gak menarik, dan dalam pikiran saya, (bahkan sampai beberapa saat sebelum tulisan ini saya tulis ), saya mikirnya film ini tuh tentang orang-orang yang bertahan dari nuclear apocalypse kayak di game Fallout, yakni 28 hari setelah kejadian tersebut dan 28 minggu setelah kejadian tersebut. Kira-kira seperti itu.

Lalu saat membaca artikel yang mejelaskan bahwa 28 Days Later (2002) dan 28 Weeks Later (2006) ada sekuelnya, 28 Years Later (2025), akhirnya saya tahu bahwa ini film zombie. Gak pakai lama, saya langsung nonton.

Film pertama dibuka dengan adegan yang saya rasa jadi inspirasi series The Walking Dead memulai episode pilotnya, dimana tokoh utamanya koma di rumah sakit, terbangun, dan bingung karena dunia sudah kosong melompong.

Baca tulisan saya di Mojok: ‘The Walking Dead’ Adalah Cerita Zombie Apocalypse Paling Masuk Akal

Cillian Murphy

Sumpah, sampai setengah jam pertama film ini, saya gak sadar karakter utamanya, Jim ini adalah Cillian Murphy! Ya soalnya di awal film, kurus banget kayak gembel, beda dengan perannya di The Dark Knight Trilogy karya Nolan atau penampilannya di film Oppenheimer (2023).

Kembali ke 28 Days Later. Bisa dibilang, setelah series The Walking Dead, game Resident Evil, film I am Legend (2007), World War Z (2013) dan Train to Busan (2016), ini film zombie terbaik yang saya tonton!

Zombie dalam 28 Days Later

Zombienya mungkin mirip seperti World War Z, dimana zombienya litterally bisa lari/sprint, beda dengan zombie The Walking Dead atau zombie Resident Evil yang jalannya lambat. Pada 28 Days Later, zombienya hanya butuh transformasi beberapa menit saja untuk berubah, beda dengan zombie lain dimana karakternya mengalami demam hingga meninggal, lalu bangkit jadi zombie. Bahkan kalau gak hati-hati bunuh zombie, kamu bisa langsung jadi zombie dalam hitungan menit karena penularannya hanya lewat air liur atau darah zombie tersebut yang masuk ke mata, hidung, ataupun mulut. Benar-benar gila!

Selain unsur teknis yang lebih sulit, yang bikin 28 Days Later ini worth it ditonton pencinta zombie adalah plotnya yang anti bertele-tele. The Walking Dead banyak buang-buang waktu ketika salah satu karakter mati dimana tokoh-tokoh di dalamnya menyiapkan upacara pemakaman terbaik, quotes menye-menye, atau galau selama beberapa menit bahkan beberapa episdode. 28 Days Later? Ain’t nobody got time for that!

Selain itu, seting tempatnya juga menarik. Bosan kan Amerika melulu? Ini setingnya di Inggris dengan kota-kota klasik maupun daerah countryside (pedesaannya) yang beda banget dengan Amerika. Jadinya ya ada sedikit variasi skin.

Bahkan yang gilanya tuh, ketika karakter utamanya di ambang kematian, film ini menolak untuk bertele-tele. Gak ada ruang untuk drama. Gak ada speech atau dialog menye-menye, tapi langsung time skip ke arc selanjutnya kalau emang ditulis masih hidup

Kalau The Walking Dead ngajarin kita cara berduka, 28 Days Later ngajarin satu hal yang lebih jujur: kalau kamu berhenti terlalu lama buat sedih, ya kamu mati. Meski begitu, 28 Days Later bukan berarti sesempurna itu. Banyak adengan klasik zombie yang bisa kamu temukan disini, yang terasa goblok dan sulit dimaafkan. Pada 28 Days Later, sekelompok tentara Inggris yang punya banyak senjata api, makanan, dan literal fortress malah buang-buang resources. Mereka juga dengan sengaja memelihara satu zombie buat dipelajari tingkah lakunya tapi tidak dengan standar kemananan yang baik dan benar.

Seperti arc klasik series The Walking Dead, dimana satu blunder kecil, seperti terpeleset, tersandung, atau gak sengaja bersin, menyebabkan orang tersebut dikejar-kejar zombie sampai mati, atau bahkan bikin satu kelompok mati sia-sia dikepung zombie atau bahkan dalam kasih The Walking Dead, bikin mereka mati dibunuh individu/kelompok lain.

Mungkin emang gitu kali ya? Bahwa jika terjadi zombie apocalypse, mereka mati bukan karena zombie atau karena kurang resources, tapi mati karena blunder kecil sehingga mereka harus selalu menerapkan zero error setiap saat.