“Lah,
ini mah sama kayak Game of Thrones endingnya!”, itulah kalimat yang saya
ucapkan setelah menyaksikan ending Stranger Things.
Baca tulisan saya: Stranger Things: It's the 80's We Never Had
Akhir
tahun 2025 diakhiri dengan berakhirnya series Stranger Things setelah hampir
satu dekade menemani para penggemarnya. Sayangnya, apa yang sudah susah-suah
dibangun creator Stranger Things, Duffer Brothers, seluruh aktor di dalamnya,
dan segenap staf lainnya berakhir dengan mengecewakan.
Bagus
di awal, kentang di akhir
Stranger
Things mengulangi kesalahan series-series terdahulu macam Lost dan Game of
Thrones yang sangat bagus di season-season awal, tapi diakhiri secara
anti-klimaks dan terburu-buru, padahal sudah sengaja “dikasih jeda” biar bisa
dipersiapkan secara lebih sempurna.
Season
pertama Stranger Things terasa sangat sempurna, dimana terasa sangat gelap dan
“detektif banget”, dimana satu kota nyariin bocah bernama Will Byers yang
hilang secara misterius. Kita semua menebak-nebak siapa dalang dibaliknya,
apakah hantu, alien, atau manusia? Apalagi seting Stranger Things ini tahun
80an banget, dimana dunia lagi tegang-tegangnya karena ada Cold War antara
Amerika dan Uni Soviet. Tiba-tiba saja, makin kesini, vibesnya yang dark dan
misterius berubah jadi semacam film action superhero?
Yang
jadi soal, main villainnya masa kalah dengan mudah begitu saja? Tanpa ada
perlawanan? Kemana para Demogorgon yang bikin tegang di season-season awal?
Terus kenapa tentara Amerika bisa semudah itu dikibulin sekelompok anak remaja
dengan mudahnya? Ending series ini bikin saya berkata, “Hah? Gitu doang?”,
karena harusnya, eksekusinya bisa lebih baik dan gak terburu-buru kayak gini.
Dua
season pertama, kita semua dibuat tegang karena karakter di dalamnya bisa mati
kapan saja. Semakin kesini terasa semakin aman? Padahal yang bikin rame itu kan
ketidakpastiannya. Semakin kesini, kita semua seolah dikasih petunjuk bahwa
para main character pasti akan selamat.
Dua
season pertama Stranger Things sudah cukup
Bagi saya
sendiri, series Stranger Things seharusnya sudah berakhir di season kedua. Dua season
tersebut sangatlah epic. Storylinenya epic, nggak repetitif, dan bikin
penasaran penonton sampai akhir. Mau endingnya dibikin gantung atau dark bebas,
yang penting berakhir di season kedua.
Makanya,
ketika muncul season ketiga, jadi nggak istimewa lagi. Karena semakin banyak
inkonsistensi cerita, inkonsistensi logika universe, serta semakin banyak plot
hole. Ibaratnya, makan Indomie goreng dua bungkus itu sudah lebih dari cukup,
tapi begitu masuk porsi ketiga, ya jadi hambar, mau selapar apapun kita. Iya
kan? Beda cerita kalau semuanya ditulis dengan apik dan konsisten sedari awal.
Orientasi
seksual apa korelasinya?
Biasanya,
sebelum final battle, main character dalam film, series, atau anime itu ada
semacam ceramah atau atur strategi biar bisa ngalahin main villain kan? Tapi
alih-alih fokus pada hal semacam ini, salah satu tokoh di dalamnya malah bilang
“Halo semua, saya ini gay!”, dan sukses bikin saya misuh-misuh.
Masalahnya
bukan pada orientasi seksual karakternya, tapi pada timing dan fungsi
naratifnya itu apa. Lagi tegang-tegangnya mau lawan mai villain, harusnya fokus
pada konflik utama dong? Emang bakal ngaruh ke jalan cerita kalau karakternya
gak bilang orientasi seksualnya apa? Kan nggak?
Stranger
Things bukanlah series yang jelek. Endingnya bisa dibilang nggak jelek. Buktinya,
saya dan jutaan orang lainnya rela nungguin dan selalu jadi trending topic di
medsos tiap season teranyarnya tayang.
Tapi
jujur saja, endingnya terasa aman, terlalu aman malahan. Jika saja Netflix dan Duffer
Brothers berani kayak Christopher Nolan atau Martin Scorsese, yang saya rasa,
jika mereka ngedirect Stranger Things, mereka bakal bikin endingnya
berdarah-darah dan bikin nangis, sebagaimana mereka tega bikin Barbara, Bob, Bill
Hargrove, Chrissy, dan Eddie Munson mati di season-season sebelumnya. Atau ya
udah, kelarin aja di season dua, nggak usah dipanjang-panjangin sampai season
lima segala.
Ternyata
emang benar, series terbaik masih dipegang Breaking Bad! Mari Bersepakat bahwa Breaking Bad
Adalah Sebaik-baiknya Serial Televisi. Bukan karena ia
sempurna, tapi karena ia tahu kapan harus berhenti dan ditulis serta dieksekusi
dengna tidak terburu-buru kayak Stranger Things.
0 Comments