Bingung
mau nonton apa, akhirnya saya rewatch Home Alone (1990) dan Home Alone 2: Lost
in New York (1992). Saya yakin, gak cuma Generasi 90an seperti saya saja yang
demen sama film ini. Banyak Baby Boomers, Gen Z, dan Gen Alpha yang suka sama
film ini. Siapa yang gak suka coba? Premisnya sederhana, tonenya sangat indah, serta
storylinenya yang kadung sempurna. Jadi gak usah bahas lagi storylinenya kayak
gimana, karena saya yakin semua sudah tahu.
Baca tulisan saya di Mojok: Bukan Home Alone, Love Actually Adalah Film Natal Terbaik!
Adalah
sebuah kebetulan pula, karena saya rewatch kedua film ini beberapa minggu
setelah Catherine O'Hara meninggal dunia. Tentu, saya tidak kenal sama sekali
dengan Catherine O'Hara, tapi saya ingin mengucapan rasa terimakasih saya yang
sebesar-besarnya karena ia telah menjadi sosok Ibu sempurna bagi siapa saja
yang sudah menonton kedua film tersebut. Sampai jumpa di alam sana, Catherine
O'Hara.
Mungkin
saya bias. Atau saya tidak objektif. Rasanya, setelah era keemasan Home Alone,
sudah gak ada lagi film family bertemakan Natal kayak gini di layar kaca.
Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Paling hanya The Polar Express (2004) yang
menurut saya masuk dalam kategori ini. Gak ada yang seiconic Home Alone.
Mungkin,
film family bertemakan Natal kayak gini udah gak laku lagi? Atau memang
sebegitu susahnya untuk dibuat, seperti susah cari aktor cilik maupun aktor
dewasa yang pas, susah bikin skenarionya, atau proses shootingnya yang susah
sehingga para sineas perfilman gak mau lagi bikin?
Sebah,
rasanya, melelahkan sekali. Banyak series maupun movies, entah itu dari
Amerika, Jepang, Korea Selatan, atau Indonesia, temanya begitu berat
dibandingkan Home Alone. Isinya kalau gak pembunuhan, perselingkuhan, trauma
masa lalu, dan hal-hal mengerikan lainnya. Kalau kata Efek Rumah Kaca, “Lagu
perselingkuhan. Atas nama pasar semuanya begitu klise”
Di
level lokal, dulu ada sinetron Keluarga Cemara. Lalu diluar universe Home
Alone, series atau film 90an itu rasanya lebih family oriented? I mean,
senakal-nakalnya remaja 90an, dalam series dan film, mereka sudah ada di rumah
pada jam makan malam. Sebobrok-bobroknya kehidupan orang dewasa 90an, mereka pasti
hadir di rumah orang tua mereka pada Thanksgiving maupun Natal. Demikian juga judul lain dari Jepang macam Doraemon,
Chibi Maruko-chan, atau Atashin'chi. Family oritented banget kan? Dan tentu
saja, jangan lupakan drakor legendaris Reply 1988 atau kartun macam Rugrats dan
Hey Arnold! Sekali lagi, tentu ini bias dan subjektif.
Baca tulisan saya di Mojok: Menonton Drama Korea Reply 1988 yang Legendaris setelah 10 Tahun Rilis
Kembali
ke Home Alone. Ada begitu banyak sudut pandang baru ketika saya nonton Home
Alone di atas kepala tiga.
Pertama,
keluarga McCalister itu sangatlah kaya! Punya rumah sebesar itu lengkap dengan
segala perabotan mewahnya dan bisa membiayai liburan seluruh keluarga besarnya
ke Paris.
Kedua,
makan malam keluarga di tahun 90an itu beneran makan malam. Meski isinya hanya
mendengar sambatan paman/bibi di meja makan tentang kehidupannya, tapi semua
menyimak. Gak ada yang main HP.
Ketiga,
Kevin McCallister (Macaulay Culkin) yang dicintai segala ugal-ugalan oleh
ibunya, Kate McCallister (Catherine O'Hara). Hal ini menunjukkan bahwa tidak
ada yang melebihi kasih seorang ibu. Kita mungkin bisa dicintai secara ugal-ugalan
seperti Sore yang mencintai Jonathan dalam film Sore:
Istri Dari masa Depan (2025), tapi yang kayak gitu paling hanya 1: seribu.
Sedangkan cinta ibu pada anaknya? Rasanya 1: sepuluh.
Kenapa
saya sebut 1: sepuluh? Bukan karena seorang ibu tidak mencintai anaknya secara
ugal-ugalan. Namun, dalam konteks zaman sekarang, dimana banyak orang tua
durhaka, orang tua depresi, orang tua baby blues karena tekanan hidup dan
lainnya, maka, saya kalkulasikan secara sotoy seperti itu. Dalam artian, Kate
McCallister bisa ugal-ugalan mencintai Kevin karena ia sudah selesai dengan
dirinya sendiri, at least dalam aspek perekonomian.
Tentu,
saya pun pernah dicintai secara ugal-ugalan oleh Ibu saya sendiri saat saya
seusia Kevin. Tapi rasanya, itu sudah lama sekali dan saya sangat merindukannya
karena keadaan sudah sangat berbeda selama tiga dekade terakhir ini.
Apalagi
ya? Ya tentu saja, The world you were born in no longer exist. Dunia terlalu cepat
berubah. Generasi 90an seperti saya menyaksikan perubahan teknologi yang
kelewat cepat. Dimana satu rumah hanya memiliki satu pesawat telepon atau
pesawat televisi, sekarang setiap orang memiliki smartphonenya masing-masing. Hal
tersebut sangat mengubah cara hidup kita, tapi tidak dengan cara manusia
beradaptasi.
I
mean, kalau kita ibaratkan, perubahan teknologi ini seperti Ferrari yang melaju
dengan kecepatan 350 km/jam, sedangkan kecepatan otak manusia yang paling
jenius sekalipun hanya mampu beradaptasi dengan kecepatan 75 km/jam.
I
mean, sebelum Perang Dunia II, perubahannya gak secepat ini. Anggap saja
seseorang kuliah teknik atau kuliah kedokteran. Ilmunya akan terus relevan
sampai ia pensiun. Cara hidupnya pun cenderung stagnan sampai ia meninggal
dunia.
Sekarang?
Mahasiswa jurnalistik yang baru selesai belajar cara menulis berita di koran,
ilmunya langsung tidak relevan karena media online muncul. Begitu ia belajar
tata cara menulis untuk media online, ia langsung dikalahkan AI. Analogi lain,
baru punya Windows XP, muncul Windows 7. Baru ganti ke Windows 7, muncul
Windows 10 dan seterusnya sehingga kecepatan adaptasinya akan kalah dengan
kecepatan perubahan teknologi.
Ini
gak ngasal. Alvin Toffler lewat bukunya Future Shock pernah bilang kurang lebih
, “Ketika perubahan sosial dan teknologi terjadi terlalu cepat, manusia akan
mengalami disorientasi psikologis.”
Saya
lupa ini teori siapa, tapi kurang lebih secara psikologi, otak manusia hanya
bisa memelihara maksimal sekitar 150 relasi saja dalam hidupnya. Sedangkan
sekarang, saya yang bukan siapa-siapa saja punya followers lebih dari 1.000
orang dan follow lebih dari 1.000 orang di semua platform media sosial saya. Mulai
dari teman terdekat, anggota keluarga, hingga beberapa kolega dan rekan kerja,
atau orang random yang saya temui di internet dan saya sukai kontennya. Jadinya
ya overload terus.
Di tahun
90an, ritmenya: Pulang sekolah → main → makan malam → tidur. Mau liburan direncanakan
matang-matang, gak bisa cancel last minute via chat seperti sekarang. Mau baca
buku harus dibaca sampai selesai karena gak ada hiburan lain. Sekarang baca
buku baru 5 menit bosan, langsung scroll medsos atau browsing gak jelas.
Mungkin
karena itu yang bikin nonton Home Alone di 2026 terasa berat. Dunianya sudah
benar-benar tidak ada.
0 Comments