Kalau
disuruh menyebutkan film, series, atau video game yang bikin saya mengeluarkan
air mata, pastinya banyak judul yang bisa saya sebutkan. Saking banyaknya, gak
bisa saya tulis satu persatu. Ya tentu bisa. Tapi buat apa juga? ~wqwq
Tapi
untuk ukuran buku? Dua karya Brian Khrisna berjudul Bandung Menjelang Pagi dan
Sisi Tergelap Surga lah yang pertama.
Baca
tulisan saya: Who's
Dilan and Milea? There's Dipha and Vinda!
Seepik-epiknya
kisah Severus Snape dan Lily Evans dalam buku Harry Potter and the Deathly
Hallows, gak ada yang sesedih itu. Mungkin, karena proximity? I mean, kedua
buku tersebut berbahasa Indonesia, ditulis oleh orang Indonesia, dan berseting
di Indonesia.
Sisi
Tergelap surga menceritakan tentang kehidupan kelam kaum proletar di Jakarta.
Jakarta gak hanya sekadar SCBD atau Senoparty saja. Ada cerita kelam tentang
kemiskinan struktural yang membuat saya bergumam, “Karl Marx was right!” sambil
memaki-maki kapitalisme.
Korban kemiskinan struktural dalam Sisi Tergelap Surga
This
ain’t love story or happy ending story. Lower your expectation, folks.
Ada Tomi,
preman terminal yang sangat ditakuti masyarakat. Kerjanya kalau gak mukulin
orang, ya mukulin istrinya. Takeshi Gouda versi dewasa yang sangat kasar, demen
mabuk-mabukan juga.
Ada
Juleha, seorang wanita yang terpaksa jadi pelacur karena kemiskinan struktural.
Mau gimana? Cari kerja halal susah. Sekalinya dapat, bayarannya kecil. Ia harus
menghidupi anak semata wayangnya bernama Ujang karena ia menjadi korban
pemerkosaan bertahun-tahun yang lalu.
Baca tulisan saya: Memaknai Lagu Kupu-Kupu Malam Karya Titiek Puspa
Ada
Sutikno, anak Mendiang Pak RT setempat yang jadi rebel semenjak ayahnya meninggal
dunia. Ia kecewa dengan realita hidup, dimana ayahnya yang sepanjang hidup gak
pernah korupsi, tapi hidupnya selalu sengsara.
Lalu
terdapat Trio remaja bernama Karyo, Jawa dan Pulung yang tidur di pos ronda
atau pelataran masjid. Mereka melakukan apa saja untuk hidup, mulai dari jadi
manusia silver, mengamen, pokoknya apa saja biar bisa sekadar hidup.
Danang,
yang diluar berpenampilan sebagai pekerja kantoran relijius shift malam yang
sebenarnya bekerja sebagai banci di malam hari. Ada Esih, anak Pak Haji super relijius
yang punya rahasia kelam.
Ada
Resti, sarjana teknik pangan yang terjebak nikah dengan pria mokondo yang gak
mau kerja karena berprinsip “rezeki sudah ada yang ngatur”. Suaminya
melarang Resti memakai KB dengan prinsip “anak rezeki dari Tuhan jangan
ditolak”. Resti pun gak berani melawan suami karena dunia ini sangat
patriarki dan gak pernah berpihak pada perempuan. Melawan suami dianggap durhaka.
Ada
Pak Badut, seorang pria paruh baya yang berjuang seorang diri menghidupi tiga
anak gadisnya selepas istrinya meninggalkan mereka berempat karena kesulitan
ekonomi.
Ada Brian,
anak Pak Lurah korup yang tiap hari memaki-maki ayahnya yang kepalang korup
jadi lurah dan demen main perempuan. Untuk ini, saya gak tahu apakah ini alter
ego Brian Khrisna atau bukan? Atau cara Brian yang berusaha menceritakan kisah
hidupnya lewat karyanya? Entahlah.
Ada
Sobirin dan Nunung, pasangan suami istri yang kesepian setelah anak laki-laki
mereka, Gugum, meninggal dunia karena sakit. Saat itu, Sobirin gak punya uang
untuk biaya berobat Gugum. Somehow, bantuan orang miskin untuk Sobirin dimanipulasi
atau dikorupsi oleh Pak Lurah, ayah Brian yang korup.
Ada
Syamsuar, mantan judi togel yang sudah keluar masuk penjara berkali-kali. Ada
Gofar, perampok motor yang terpaksa melakukan pekerjaan haram tersebut biar
bisa menghidupi ibunya yang sakit stroke. Dan terakhir, ada Tante Batak, seorang
janda cat lovers yang tiap hari ngasih makan kucing liar yang ia temui.
Baca
tulisan saya di Mojok: Kucing Liar Adalah
Hama
If you don't share someone's
pain, you can never understand them.
Seseorang
yang gak pernah merasakan ditampar realita lewat kemiskinan struktural akan
menganggap tokoh-tokoh yang saya sebutkan sebagai sampah masyarakat. Apalagi,
mereka-mereka yang bekerja sebagai pelacur apalagi banci.
Mereka
akan menghakimi para sampah masyarakat tersebut sebagai orang yang malas cari
kerja atau malas meningkatkan skill. Padahal kurang rajin apa sih orang miskin
itu? Puluhan tahun bangun sebelum adzan subuh berkumandang untuk bekerja sampai
larut malam tapi tetap masih belum bisa keluar dari yang namanya kemiskinan
struktural.
Saya
sendiri tidak kenal Brian Khrisna secara langsung. Hanya sekadar baca karyanya
dan follow media sosialnya. Tapi Saya rasa,
Brian Khrisna ini tipikal penulis seperti Ahmad Tohari. Ia sangat memikirkan
nasib dan martabat “wong cilik” korban kemiskinan struktural lewat
tulisan-tulisannya. Gaya tulisan dan isi tulisannya sangat mencerminkan
seseorang yang pernah beneran hidup di jalanan. Gaya tulisan maupun isinya
sangat berbeda dengan gaya tulisan maupun isi tulisan dari penulis yang punya
privilege dari lahir seperti Raditya Dika maupun Dewi Lestari.
Quotes paling ngena dalam Sisi Tergelap Surga:
"Ibu bekerja sebagai pelacur. Dan Ujang sayang sama Ibu"
Don’t
get me wrong. Raditya Dika dan Dewi Lestari juga menyisipkan kritik sosial
maupun kemiskinan struktural dalam kisah-kisahnya. Tapi tentu saja pada taraf
yang berbeda. Sesusah-susahnya musibah yang dialami “Kambing Jantan”, ia bisa kuliah
di Australia tanpa pusing mikirin biaya kuliah. Sesusah-susahnya Reuben dan
Dimas dalam kisah Supernova, mereka kuliah di Amerika pada tahun 90an cuy!
Jelas, point of viewnya beda dengan Brian Khrisna.
Bisa
dibilang, Sisi Tergelap Surga ini merupakan versi buku dari film American
Beauty karya Sam Mendes. Bahwa, terdapat sisi kelam dari American Dream yang
selama berabad-abad digaungkan Negeri Paman Sam itu.
Sisi
Tergelap Surga bukanlah buku yang bisa dinikmati semua orang. Saya bisa
menikmati Supernova karya Dewi Lestari dalam sekali jalan. Menikmati setiap
diksi, istilah sains maupun filosofis yang ada di dalamnya. Semakin dalam
membacanya, saya semakin penasaran dan buru-buru pingin ke halaman selanjutnya.
Tapi
Sisi Tergelap Surga? Saya harus bacanya pelan-pelan. Bukan karena saya gak bisa
menghabiskannya sekali waktu. Tapi saya harus bengong dulu setelah membaca
beberapa kisah di dalamnya. Contohnya, saya bengong saat membaca kelamnya kisah
Tomi dan Juleha yang menurut saya kisahnya paling kelam. Biar bagaimanapun,
beda dengan nonton film. Segelap-gelapnya sebuah film, pace atau temponya dibikin
sama si pembuat film. Kalau buku, pace atau temponya si pembaca yang nentuin,
Ia bisa baca sekali duduk, atau memutuskan buat bengong dulu.
Saya
berharap, suatu saat karya Brian Khrisna ini bisa dibikin jadi film. Tentu,
dengan skrip yang rapi serta cast yang pas dan sesuai ya. Because it’s looks
promising to be a good movie!
0 Comments