Tahun
2022 yang lalu, spin-off Toy Story yang berjudul Lightyear memicu kontroversi
karena orientasi seksual salah satu karakter di dalamnya itu lesbian. Masalahnya,
ini film anak-anak. Coba bayangkan, jika pada trilogy Toy Story, salah satu
karakternya itu LGBT? Pasti bakal ribut kayak gini juga kan? Tapi saya baru
nonton Lightyear (2022) bukan karena ada unsur LGBTnya. Tapi karena baru sempat
aja. Meski miskin, saya ini sibuk, lho.
Ok,
langsung aja ke reviewnya.
Baca
tulisan saya: Betapa
Beratnya Menonton Toy Story Ketika Berusia 30 tahun
Buzz
Lightyear sejatinya bukan sekadar mainan Andy pada semesta trilogy. Ia merupakan
seorang space ranger, semacam Jedi atau special forces luar angkasa. Semacam
Commander Shepard pada game Mass Effect. Manusia biasa yang punya kemampuan
fisik luar biasa ala tentara dan didukung teknologi canggih untuk mendukung
misinya diluar angkasa.
Baca
tulisan saya di Mojok: Belajar
Mengambil Keputusan lewat Mass Effect
Seharusnya,
premisnya bisa sangat promising. Bayangkan space adventure macam Star Wars, Mass
Effect atau Interstellar yang memadukan teori-teori fisika macam relativiy dan
time dilation. Sayangnya, eksekusi Lightyear ini terasa sangat kurang.
Sekalipun eksekusinya ciamik, topik time dilation ini terlalu berat buat film Lightyear
yang segmentasi utamanya anak-anak. Beda cerita kalau segmentasinya untuk
remaja dan orang dewasa.
Nah,
Lightyear ini di awal cerita sempat menampilkan time dilation, dimana Buzz berusaha
menyelamatkan umat manusia yang terdampar pada suatu planet dengan melakukan
hyper speed melebihi kecepatan cahaya, tapi yang terjadi malah time dilation.
Bagi Buzz, ia hanya pergi beberapa jam, tapi di planet itu, sudah lewat
bertahun-tahun.
Commander
Hawthorne, atasan Buzz Lightyear yang lesbian itu sampai punya cucu dan
meninggal dunia karena menunggu Buzz berusaha cari jalan keluar berkali-kali
berusaha biar umat manusia bisa keluar dari planet tersebut.
Ah,
ngomong-ngomong Commander Hawthorne, sebetulnya orientasi seksualnya ini gak
ngaruh sama sekali ke jalan cerita. Intinya kan time dilation sampai ia punya
cucu dan meninggal dunia. Mau dia dibikin heteroseksual atau lesbian itu gak ngaruh
sama sekali ke jalan cerita. Entah kenapa Disney dan Pixar repot-repot nambahin
detail kecil gak berguna ini sampai kena hujatan dimana-mana. ~wqwqwq
Secara
matematis, Lightyear ini flop banget pendapatannya. Tapi saya kira, film ini
flop bukan karena orientasi seksual salah satu karakternya yang jadi kontroversi.
Memang storyline dan eksekusinya aja kurang ciamik. Padahal ya bisa aja Disney
dan Pixar adaptasi serial kartun Buzz
Lightyear of Star Command tahun 2000an itu dengan teknologi dan sinematografi
kekinian.
Lagian,
banyak karakter dalam semesta Toy Story yang saya rasa bisa bagus kalau dibikin
spin-offnya. Misalnya, Sheriff Woody yang bisa diadaptasi versi cowboynya
lengkap dengan Jessie, Bullseye, dan Stinky Pete. Dibikin ala-ala Lucky Luke
gitu misalnya, atau bisa versi agak serius ala-ala film cowboy Wild West kayak
Billy the Kid?
Jadi
ya Lightyear (2022) ini bukti bahwa milking suatu franchise legendaris macam
Toy Story itu akhirnya bakal gagal juga kalau storylinenya gak apik. Apalagi
teori sains dan karakter didalamnya gak kuat. Mudah-mudahan Toy Story 5 nanti
gak bakalan flop kayak gini deh.
0 Comments