Nampaknya,
sebagian besar Generasi 90an Indonesia tidak asing dengan Anime Gakkou no
Kaidan alias Ghost at School. Pasalnya, pada awal tahun 2000an, anime ini
ditayangkan TV-7 (sekarang Trans 7). Seingat saya, anime ini tayang pada pukul 18.30
sore, dimana anak yang sekolah siang baru selesai mandi dan anak yang sekolah
pagi sudah selesai bimbel/kursus tambahan.
Anime
ini bercerita tentang Satsuki Miyanohsita, adiknya, Keiichiro Miyanoshita, dan
ayahnya, Reiichirou Miyanoshita yang baru saja pindah ke kota kecil kampung
halaman kedua orang tuanya. Seingat saya, sebelum ibunya, Kayako Miyanishita
meninggal, Satsuki dan keluarganya tinggal di Tokyo atau kota besar Jepang
lainnya. Nah, di kampung halaman kedua orang tuanya ini, Satsuki berteman
dengan Hajime, Leo dan Momoko setelah mengetahui bahwa gedung sekolah lama
tempat mereka bersekolah ini berhantu. Satsuki juga mendapati bahwa ibu dan
ayahnya bersekolah puluhan tahun yang lalu. Dan ibunya ternyata telah menidurkan
seluruh hantu yang ada di sekolah tersebut setelah Satsuki membaca diarynya.
26
tahun yang lalu, anime ini terasa seram, karena ya kondisi Indonesia pada zaman
itu gak seterang sekarang, even di Jakarta dan Bandung. Apalagi saat itu saya
tumbuh dengan film-film horror Suzzanna maupun film-film horor Indonesia awal
tahun 2000an macam Jelangkung karya Rizal Mantovani. Secara kultural pun, hantu
Jepang kurang lebih bentuk dan background storiesnya sama.
Dulu saya
dan teman-teman satu generasi nonton ini buat seru-seruan aja. Sekarang? Saya
jadi iri, karena 26 tahun yang lalu saja, kualitas sekolah di Jepang jauh lebih
baik dibandingkan kualitas sekolah Indonesia sekarang. Selain itu, saya
cermati, anime ini cukup dark juga.
Bertahun
tahun setelah ibu dan istri mereka meninggal, Satsuki, Keiichiro dan Reiichiro
semacam mengalami PTSD atau Post-Traumatic Stress Disorder setelah Kayako
meninggal. Satsuki dipaksa dewasa sebelum waktunya, yakni berperan ganda
sebagai ibu dan istri bagi Keiichiro dan Reiichiro dengan memasak dan melakukan
pekerjaan rumah. Keiichiro berkali-kali menangis ketika ingat ibunya, dan
Reiichiro yang sering duduk bersila depan foto Kayako pada altar di rumahnya
sambil minum bir. Sebucin itu Reiichiro pada istrinya.
Keiichiro dan hantu pada lomba lari
Gak
hanya itu, hantu-hantu yang muncul disinipun background storynya cukup sedih.
Ada hantu pelari yang meninggal dunia yang meninggal sehari sebelum kompetisi
karena kecelakaan lalu lintas, dan ia tidak jadi mencelakai Keiichiro karena
teringat kenangan saat ia masih hidup dulu yang mati-matian berlatih. Sebagai
pelari rekreasional yang sudah lari ribuan kilometer, tentu saja saya sangat
relate dengan episode ini.
Simak
tulisan saya di Mojok: Perlengkapan
Olahraga Lari Itu Murah, yang Mahal Istikamahnya
Shizuko, hantu yang gentayangan cari cincin tunangannya
Ada
juga hantu perempuan korban tabrak yang gentayangan mencari cincin tunangannya.
Ia gentayangan mencari sopir taksi pelaku tabrak lari yang membuatnya kehilngan
nyawa. Ada juga boneka random yang merasa kesepian karena somehow dibuang
pemiliknya di tong sampah dan lagi-lagi, somehow tidak jadi mencelakai Satsuki
karena Satsuki sempat mengecup dan membersihkan wajahnya ketika melihatnya di
tempat sampah dengan sapu tangan. Sebagai Mileneal yang tumbuh dengan menonton
Toy Story, tentu saja saya relate.
Simak
tulisan saya: Betapa
Beratnya Menonton Toy Story Ketika Berusia 30 Tahun
26
tahun lalu, saya fokus pada seramnya hantu tersebut beserta backround musiknya
yang mendukung serta atmosfer maghrib Indonesia saat itu. Sekarang? Background
story mereka ini bikin sedih. Cerita dimana seorang istri dan ibu yang bikin suami
dan anak-anaknya trauma, cerita tentang perjuangan seorang anak SD mengikuti
kompetisi olahraga, cerita tentang perempuan yang kehilangan nyawa setelah baru
saja bertunangan, dan cerita tentang boneka yang kesepian setelah dibuang
begitu saja di tong sampah oleh pemiliknya yang entah siapa.
Hantu
Jepang ini juga background storynya agak mirip dengan hantu Indonesia.Mereka
gak sekadar hantu. Mereka dulunya makhluk fana yang punya trauma masa lalu dan
punya dendam sangat tinggi. Seperti cerita Ju-On atau versi Hollywoodnya, The
Grudge. Dan ya setelah saya amati, most of them itu ya hantu wanita, yang jadi
korban kejamnya praktik patriarki dan misoganisnya masyarakat Jepang, bahkan
hingga sekarang. Kalaupun hantu itu gak ada, bisa dikatakan ini produk budaya
untuk mengkritisi praktik patriarki dan misoganisnya masyarakat Jepang.
Hantu-hantu
Jepang pada anime ini atau film horror Jepang yang saya tonton pun sebagian
besar ya lahir dari trauma. Jadi jarang sekali yang jahat dari sononya macam
Lucifer pada Agama Abrahamic atau cerita-cerita exorcism film horror Barat
maupun cerita horror Indonesia dimana para tokohnya somehow diganggu jin yang
iseng.
"Always
re-read your favourite books and re-watch your favourite movies or series at
different stages of your life. The plot never changes but your perspective does"
itu benar adanya. Dulu saya dan teman-teman satu generasi saya itu fokus pada
hantu atau hal spiritualnya. Sekarang saya jadi tahu bahwa backgrund storynya ini
sangatlah sedih. Kalaupun sains mampu membuktikan bahwa hantu itu benar-benar
gak ada, misal itu hanya kabar burung atau semacam trik rahasia seperti pada
kartun Scooby-Do, artinya ada banyak rasa sakit dan trauma manusia yang tidak
terselesaikan sehingga muncul hantu-hantu semacam ini karena ya trauma itu
tidak pernah benar-benar hilang. Dan mungkin, “hantu-hantu” itu pada akhirnya
hanyalah nama lain bagi trauma yang menolak benar-benar pergi.
0 Comments