Beberapa
minggu ini, saya nonton ulang anime Shingeki no Kyoujin dari awal. Seingat
saya, ini kali ketiga saya nonton ulang dan semakin saya nonton anime ini, semakin
saya mengerti tentang kelamnya anime ini. Banyak orang gak suka dengan
endingnya. The internet went nuts when endingnya direvel Hajime Isayama lewat
manganya terlebih dahulu sebelum versi animenya. Buat saya yang gak baca
manganya sama sekali, endingnya sudah pas dan sangat sempurna.
Baca
tulisan saya di Mojok: Saya
Setuju dengan Eren, Rumbling Adalah Solusi
Perbendaharaan
saya ada manga dan anime memang masih sedikit. Namun buat saya, Shingeki no
Kyoujin pantas mendapat predikat sebagai salah satu anime terbaik, setidaknya
ada medio 2013 – 2023.
Baca
tulisan saya di Mojok: Susah
Dimungkiri bahwa ‘Rurouni Kenshin’ Adalah Anime Terbaik Era 90-an
Sejak
episode pertama, anime ini sudah sangat gelap. Tokoh utamanya, Eren Yeager
harus menyaksikan ibu kandungnya dimakan Kyoujin atau Titan dengan mata
kepalanya sendiri. Ia juga menyaksikan bagaimana kamung halamannya hancur. Dari
situ, ia bersumpah untuk jadi prajurit untuk bisa balas dendam. Ini jelas jauh
lebih kelam dibanding background story Naruto atau bahkan Bruce Wayne. Bayangkan,
menyaksikan ibu kandung sendiri dimakan hidup-hidup!
Episode-episode
awal sangat terasa horornya. Tentang betapa kecilnya umat manusia dihadapan Kyoujin/Titan
yang sewaktu-waktu bisa memakan mereka hidup-hidup. Manusia yang jumlahnya
tinggal sedikit itu hanya bisa hidup dibalik tembok dengan rasa takut yang
teramat sangat, karena tembok bisa runtuh sewaktu-waktu. Tingkat horornya sama
seperti film zombie apocalypse macam World War Z atau 28 Days Later.
Saking
gelapnya ini anime, hampir gak ada humornya sama sekali. Naruto, Bleach, One
Piece, Shaman King atau Inuyasha, dalam berbagai momen, termasuk perang sekalipun,
akan ada kelakukan konyol tokoh-tokoh di dalamnya yang mengocok perut. Shingeki
no Kyoujin seolah-olah berkata, “We don’t do that here”
Uniknya,
anime ini pun gak ada unsur Jepang sama sekali. Nama karakter di dalamnya gak
ada unsur Jepangnya. Nama karakter di dalamnya “Eropa banget” seperti Eren Yeager,
Erwin Smith, Levi Ackerman, Reiner Braun, Sasha Braus, hingga Keith Sadies. Bangunan
atau arsitektur di dalamnya pun sama-sama “Eropa“, lebih tepatnya Eropa Abad
Pertengahan pada Era Renaisans.
Sudah
sampai disitu? Ternyata nggak juga. Terlalu banyak plot twist filosofis yang
terjadi dalam waktu berdekatan dan sangat padat. Episode-episode pertama kita
diperkenalkan dengan Kyoujin/Titan yang bisa memakan manusia sewaktu-waktu.
Belum lepas dari horror itu, tiba-tiba saja Eren Yeager ternyata bisa berubah
jadi Titan. Beberapa episode setelahnya, penonton diperkenalkan bahwa selain
Eren Yeager, ada beberapa karakter di dalamnya yang ternyata adalah manusia
yang bisa berubah jadi Kyoujin/Titan seerti Eren Yeager. Awalnya murni manusia
vs Kyoujin/Titan tiba-tiba berubah jadi manusia vs manusia.
Tidak
sampai disitu, pada akhirnya kita mendapati bahwa semuanya ini bukan tentang
manusia vs Kyoujin/Titan atau manusia vs manusia. Ini tentang bagaimana
propaganda politik yang dibangun selama ratusan tahun karena disini, umat
manusia ternyata telah ditipu mentah-mentah oleh para pemimpin mereka, oleh
para leluhur mereka. Bahwa apa yang mereka percayai selama berabad-abad
sebetulnya hanyalah kebohongan yang terus dipelihara. Benar-benar sadis!
Saya
rela menyerahka nyawa saya pada Erwin Smith
Tokoh
favorit saya jelas Erwin Smith. Komandan Survey Corps yang berulang kali
membuat saya merinding dan menangis. Erwin Smith gak pernah jual motivasi “Ayo
maju, kita bisa mengalahkan musuh!”, tapi ia secara jujur berkata “Kita
bakal mati disini. Kita bakal mati konyol tanpa arti bagai hewan ternak. Tapi ayo
buatlah kematian kita jadi arti buat generasi mendatang yang hidup setelah
kita!” sambil naik kuda memimpin pasukan yang ia pimpin menuju kematian.
Sebut
saja saya gila, tapi rasanya, kalau Erwin Smith pidato kayak gitu depan saya,
saya rela untuk mati demi umat manusia. Pidato Erwin Smith ini bahkan bisa saya
sejajarkan dengan pidato King Theoden dan Aragorn dalam semesta Lord of the
Rings, Maximus Decimus Meridius dalam film Gladiator (2000), atau Willam
Wallace dalam film Braveheart (1995).
Mereka
semua punya satu persamaan. Walk the talk. Lead from the front. Mereka bukanlah
tipikal pemimpin yang cuma duduk manis di belakang meja sambil minum kopi.
Mereka pemimpin yang memimpin pasukannya di baris terdepan dan rela maju paling
depan, tidak seperti pemimpin saat ini yang kerjanya nongkrong dibalik meja
sambil menyeruput kopi dan kerjanya cuma bisa nyuruh-nyuruh doang.
0 Comments