Siapa gitaris terbaik di dunia? Jawaban penggemar musik atau kritikus musik biasanya gak jauh dari Slash, Richie Sambora, David Gilmour, Jimi Hendrix, Eddie Van Halen, Brian May, maupun B.B.King. Saya juga mengamininya. Namun ada satu nama underrated yang buat saya sangat, sangat, sangat hiden gem, yaitu Gary Moore, the only one who can make the guitar cry.

Bukan berarti permainan Slash, Richie Sambora, David Gilmour, Jimi Hendrix, Eddie Van Halen, Brian May, maupun B.B.King itu jelek. Saya gak bilang gitu. Tapi ada suatu keistimeawaan pada Gary Moore yang tidak dimiliki oleh gitaris lain, yaitu petikan gitar Gary Moore itu bercerita. Sekali lagi, bukan berarti petikan gitaris lain tidak bercerita ya.

Secara musikalitas, Gary Moore tahu kapan harus memberi jeda pada petikan gitarnya, gak asal cepat atau berteknik aneh-aneh. Ia tahu kapan harus berhenti, kapan harus bernada rendah. Kadang ia memberikan jeda sepersekian detik yang pas pada lagu-lagunya, yang entah kenapa, disitulah letak seninya.

Pada paragraf pertama, saya bilang “Gary Moore, the only one who can make the guitar cry”, bukan? Saya bilang gitu karena dalam sejumlah lagu seperti lagu Still Got The Blues misalnya, entah kenapa, interpretasi saya sebagai orang awam yang gak bisa nyanyi atau main gitar sama sekali menafsirkannya sebagai sebuah teriakan serta sebuah tangisan, atau sebuah lolongan. Mirip seperti lolongan atau teriakan Chester Bennington, Kurt Cobain, Eddie Vedder maupun Courtney Love dalam lagu-lagunya.

Yang entah kenapa, seluruh lagu Gary Moore sangat cocok diputar pada malam hari, alih-alih siang hari, sama seperti Solider of Fortune karya Deep Purple, Temple of the King dari Rainbow, Comfortably Numb dari Pink Floyd, Where Are You Now dari Nazareth maupun Still Loving You dari Scorpions.

Baca tulisan saya: Soldier of Fortune dan Perasaan yng Sulit Dijelaskan

Dalam setiap lagunya, mulai dari Still got the Blues, Parisienne Walkways, One Day, Empty Rooms, hingga In My Dreams seperti seorang bapak-bapak yang bercerita tentang petualangannya selama puluhan tahun dalam sebuah ruangan pada anak muda. Kadang bahagia, kadang sedih, kadang menyesal, kadang kesal, kadang ada dendam, tapi begitulah hidup. ‘Yeah, my life far from perfect but it’s my life and it is what it is’

Dalam lagu One Day, Gary Moore berkata:

But one day the sun will shine on you
Turn all your tears to laughter
One day your dreams may all come true
One day the sun will shine on you

Buat saya, itu seolah-olah motivasi dari Gary Moore kepada siapa saja untuk tidak berpatah semangat akan hidup dan sedih terus-terusan karena ya hidup memang begtu.

Dalam lagu In My Dreams, bahkan lebih melankolis lagi:

Every night
I'll see you in my dreams
Every time it seems
That we'd belong together
And I know
No matter where you are
Underneath the stars
I'll see you in my dreams

Dalam hidup, ada berapa banyak sih cinta yang kesampaian? Banyaknya kan kandas? Lagu ini bisa disebut sebagai perpisahan bisa. Disebut keikhlasan bisa. Disebut lolongan ketidaktermaan juga bisa.

Lalu, buat saya pribadi, lagu Gary Moore paling paripurna tentu saja Still got the Blues. Bukan saja karena itu lagu pertama Gary Moore yang saya dengar. Tapi lagu itu benar-benar lagu yang saya sebut dimana “the guitar is crying”.

Saya gak tahu apa maksud Gary Moore bikin lagu ini. Kalau dilihat secara harfiah, Still got the Blues memang seperti lagu nostalgia. Bukan hanya karena dulu lagu ini sering saya dengar di reuni bapak-bapak Baby Boomers saja, tapi ya liriknya secara harfiah bercerita bahwa “Saya masih punya semangat ngeblues’ yang bisa saja ada maksa semiotik lain selain recehan seperti itu.

Saya gak tahu pasti kecuali nanya langsung ke Gary Moore nanti di Alam Sana. Tapi satu hal yang pasti. Suara lengkingan gitar yang panjang dalam Still got the Blues itu buat saya beneran kayak yang nangis. Lengkingannya seperti bayi menangis karena tidak mendapatkan keinginannya dan tidak dimengerti orang lain. Pokoknya ya gitu. Susah dijelaskan dengan kalimat verbal manusia sehingga harus gitarnya yang jadi perantara itu semua.

Saya juga gak kenal Gary Moore secara langsung. Jelas. Tapi ya itu tafsiran saya atas seluruh karyanya yang hanya saya kenal lewat internet maupun sejarah hidupnya yang ditulis di internet yang saya baca. Gary Moore ini kayak Bruce Wayne atau Logan yang sudah capek berjuang seorang diri selama puluhan tahun dan akhirnya sudah berada pada puncak tertinggi sehingga berusaha menceritakan unek-uneknya selama ini pada dunia lewat petikan gitarnya. Dan ya kekuatan Gary Moore itu bukan hanya petikan gitarnya karena ia pun sekaligus menjadi vokalis juga, menjadikannya poin plus yang gak ada duanya.

Gary Moore memang sudah meninggal, tapi karyanya abadi. Saya gak sempat mengenalnya secara langsung, tapi saya sangat berterimakasih atas seluruh karya-karyanya yang abadi tersebut.