Beberapa minggu yang lalu, saya membaca buku Seni Merayu Tuhan karya Husein Ja'far Al Hadar. Maaf, isinya ya tentang motivasi Islami yang sudah bosan saya baca, karena isinya template yang nyuruh kita semua sabar dan ikhlas dalam hidup, seberat apapun itu, selayaknya puluhan buku sejenis yang sudah saya baca sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Bedanya, apa yang ditulis Habib Ja'far ini dikemas dengan bahasa kekinian serta contoh kontemporter yang lebih relate untuk Mileneal dan Gen Z. Lalu, kemarin malam, saya berkesempatan untuk menonton adaptasi filmnya.

Perjalanan saya menonton film ini terjadi secara mendadak. Saya berkesempatan nonton film ini atas jasa Mizan Publishing serta Wahana Kreator. Terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada mereka serta seluruh pihak yang terlibat pada pembuatan karya film ini.

Seperti yang sudah-sudah, film reliji ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Hikmah (Ari Irham) atas Tuhan. Setelah ditinggal meninggal Ayahnya, ia harus ditinggal kembali oleh Ibunya (Rieke Dyah Pitaloka). Sejak awal film, diceritakan bahwa Hikmah sudah beberapa tahun ini mogok shalat meski setiap hari Ibunya selalu mengingatkan Hikmah untuk shalat.

Hikmah juga punya pacar bernama Sophia (Lutesha) yang pada bagian pertengahan film diketahu bahwa ia adalah seorang umat Katolik yang taat. Mereka berdua sudah berpacaran selama beberapa tahun namun karena jurang bernama agama, mereka belum, atau bahkan tidak menikah sampai akhir film.

Saya sendiri gak ada ekspektasi apa-apa sebelum nonton film ini. Saya cuma berharap jangan sampai Sophia diceritakan masuk Islam hanya demi bisa menikah dengan Hikmah. Rasanya bosan sekali, atau bahkan bisa dibilang, sangat tidak sopan, atau bahkan, tidak nyaman? Karena entah kenapa, dua puluh tahun lalu ada banyak novel atau film menampilkan tentang cerita mualafnya seseorang, tapi secara soft point, menjelek-jelekan agama sebelumnya. Bahkan tidak sedikit seorang mualaf itu banyak yang akhirnya menjelek-jelekan agama sebelumnya. Kayak norak aja gitu. Oke lanjut.

Pada intinya, Hikmah mengalami pasang surut dalam keimanan, dari seorang anak yang pernah menang lomba adzan, lalu sempat “vakum” shalat selama beberapa tahun, hingga kembali menemukan semangat beragama setelah Ibunya meninggal namun kembali kecewa karena ia belajar pada ulama yang litteraly jualan agama dan korupsi uang umat sehingga ia kembali tersesat dan bahkan sempat bekerja di dunia malam sebagai seorang bouncer.

Premisnya mirip seperti film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (2023), namun karena nampaknya target pasar genre film ini lebih universal, film ini gak sedark film DC atau film-film noir karya David Lynch. Film ini bahkan gak sedark buku macam Bandung Menjelang Pagi atau Sisi Tergelap Surga.

Saya bilang gitu karena disini ada adegan Hikmah mendapati bahwa ada seorang LC (Lady Companion) yang terpaksa kerja seperti itu demi menghidupi anaknya. Bahkan anak seorang LC tersebut mengaji di lorong tempat karaoke sambil menunggu ibunya bekerja. Sayangnya hal itu gak terlalu disorot dan hanya terjadi selama beberapa detik. Mungkin karena segmentasi pasar film ini bukan yang dark kali ya? Entahlah.

Kekuatan utama film ini juga terdapat pada karakter pendukungnya seperti Teuku Ryzki, Rieke Diah Pitaloka, Sita Nursanti (yang gak saya sadari padahal dulu sering nontonin film Gie), Onadio Leonardo (yang podcastnya bersama Habib Ja'far suka saya tonton), Arie Keriting (komika asal Indonesia Timur yang beberapa stand upnya saya tonton), Guzman Siege (komika asal Bandung yang relate buat warga Jawa Barat), Miing Bagito dan tentu saja cameo Habib Ja'farnya sendiri yang udah kayak Stan Lee di film ini.

Namun ya dakwahnya cukup dapat meski ya mohon maaf, isinya ya template sebagaimana puluhan atau ratusan ulama yang sudah-sudah, bahwa doa itu hak periogatif Tuhan, sebagaimana ada Ibrahim yang baru setelah 90 tahun doanya dikabulkan, ada juga yang baru setelah 5 jam berdoa doanya dikabulkan, dan ada yang seperti rakyat Palestina dimana doanya selama hampir satu abad ini gak dikabul-kabulkan. Tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa.

Tapi ya anyhow, film ini semoga bisa jadi babak baru dunia perfilman Indonesia, karena film ini pastinya lebih relate untuk Mileneal dan Gen Z karena mengingatkan kita semua juga bahwa gak semua hal itu cocok untuk dikontenin, terutama ya urusan agama dan ibadah sebagaimana yang ditunjukan dalam konflik film ini.