I have nothing to do, so I decided to rewatch all Marvel Cinematic Universe from the beginning, starting from Iron Man (2008), lalu dilanjutkan dengan The Incredible Hulk (2008) and so on. Buat refresh materi sebelum kemunculan Avengers: Doomsday akhir tahun ini.

Saya ingat persis, pada tahun 2008, saya menyaksikan Hulk versi Edward Norton ini di bioskop. Untuk ukuran tahun segitu, tentu saja film ini sangat luar biasa kualitas audio visualnya. Belum lagi ditambah kemunculan cameo Robert Downey Jr. pada after screennya.

Tapi saya gak akan bahas itu. Saya akan fokus bahas Hulk versi Edward Norton yang dipikir-pikir cukup dark juga untuk ukuran film Marvel. Openingnya misterius kayak DC atau film noir. Atau film action khas Hollywood era Cold War. Bruce Banner juga terlihat sangat depresif dan punya banyak PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) kayak Batman.

Adegan dimana Bruce Banner kabur ke permukiman miskin di Brazil, kerja di pabrik soft drink, mencoba belajar mengontrol emosinya ala-ala film martial arts itu keren banget. Kayak bukan film Marvel aja. Ini kalau stand-alone juga cukup bagus, udah kayak opening Batman Begins besutan Christopher Nolan.

Saya benar-benar lupa akan hal tersebut, karena setelah film ini, Marvel Studios mengganti Bruce Banner dengan Mark Ruffalo sampai sekarang. Entah kenapa, padahal saya lebih suka versi Edward Norton. Jangan lupakan juga Hulk versi Eric Bana pada film Hulk (2003) juga ya.

Saat re-watch The Incredible Hulk, saya juga lagi rewatch Modern Family, dan dibuat kaget dengan Ty Burrell sebagai Doc Samson. Image Ty Burrell terlanjur melekat pada kepala saya sebagai bapak-bapak kikuk yang gak ada seriusnya sama sekali, eh main di film superhero macam Marvel. ~wqwqq

Baca tulisan saya: Rewatching Modern Family Feels Like Having a Real Family

Ok, kembali ke Edward Norton.

Hulk versi Edward Norton saya nilai lebih kaya akan emosi. Tampilan fisiknya juga lebih sangar. Sangat jauh berbeda dibanding Hulk versi Mark Ruffalo yang lebih jenaka dan tampilan Hulknya gak ada seram-seramnya sama sekali. Bahkan, Hulk versi Edward Norton saya perhatikan ini hampir gak ada komedinya sama sekali, yang sangat mirip dengan film DC.

Entah kenapa, Hulk juga seperti dapat nerf habis-habisan pada versi film. Sebab, pada versi komik, Hulk ini sanggup mengancurkan Bumi dengan ototnya saja. Ia juga bisa dibilang kalau adu jotos dengan Thanos tanpa Infinity Stonesnya atau Thor dengan Mjolnirnya, cukup berimbang. Pada versi film, ditembakin peluru machine gun atau tembakan bazooka seperti “kesakitan” meski tidak sampai membunuhnya. Bukankah seharusnya ia “kebal” seperti Superman pada serangan senjata api?

Pada film-film selanjutnya, Hulk dibuat “lemah”, seperti tumbang gitu aja ketika melawan Thanos atau bahkan Spider-Man. Baik Hulk maupun Bruce Banner juga seolah-olah jadi karakter komedi, yang entah gagal bertransormasi atau melakukan hal-hal konyol ketika bertarung. Benar-benar gak ada wibawanya. Hal ini pun diperparah dengan series macam She-Hulk yang benar-benar hancur.

Pangsa pasar Marvel emang lebih “muda”, yakni targetnya “anak-anak” atau “remaja”, jadi sengaja gak dibuat segelap DC. Hulk juga “dipaksa” ramah, tapi ya harusnya gak gini juga caranya. Tapi, pada akhirnya, saya dan jutaan penggemar film ini bisa apa? Keputusan akhir tetap pada petinggi Marvel Studios atau studio apapun yang pegang lisensinya. Bahkan sekelas Mendiang Stan Lee aja mau gak mau nurut aja meski beda banget dari komiknya yang ia bikin. By the way, Marvel gak kepikiran menghadirkan tiga versi Hulk, mulai dari Eric Bana, Edward Norton dan Mark Rufalo kayak tiga Spider-Man apa?