Ada
banyak movies atau series yang keluar tahun ini. Bingung mau nonton apa,
akhirnya saya memutuskan untuk rewatch
Modern Family, sitkom yang formatnya mockumentary dimana karakter di
dalamnya semacam diwawancara gitu mengomentari adegan yang baru dilakukannya
secara fiktif. Ada sitkom lain juga buat
yang suka format mockumentary, judulnya The Office.
Baca
tulisan saya: The
Office, Sitkom yang BIkin Saya Pingin Ngerasain Kerja Kantoran
Kali
kedua nonton Modern Family, saya rasanya bisa relate dengan salah satu teori
komunikasi massa. Lebih tepatnya saya lupa, antara jarum hipordemik atau
kultivasi? Namun intinya, teori ini berbunyi, audience yang kecanduan menonton
televisi, misalnya, lebih dari empat jam dalam sehari, bisa sulit mencerna
realita. Penonton yang kecanduan tersebut akan menganggap apa yang ia lihat di
layar kaca itu merupakan realita yang sesungguhnya. Saya gak tahu teori
tersebut masih relevan atau tidak, karena beberapa tahun yang lalu adik kelas
saya bilang teori tersebut dinilai sudah tidak relevan lagi. Tapi kita tidak
akan membahas itu.
Yang
akan saya bahas adalah, bahwa saya merasa bahwa apa yang saya saksikan lewat
sitkom Modern Family itu benar-benar terjadi. Jujur saja, saya menganggap Phil
Dunphy (Ty Burrell), Claire Dunphy (Julie Bowen), Haley Dunphy (Sarah Hyland),
Alex Dunphy (Ariel Winter), Luke Dunphy (Nolan Gould), Jay Pritchett (Ed
O'Neill), Gloria Delgado-Pritchett (SofĂa Vergara), Manny Delgado (Rico
Rodriguez), hingga Mitchell Pritchett (Jesse Tyler Ferguson), Cameron Tucker
(Eric Allen Stonestreet) dan Lily Tucker-Pritchett (Aubrey Anderson-Emmons)
seperti keluarga saya sendiri.
Sebut
saja saya gila, bahwa “Rewatching Modern Family feels like having a real
family in real life.”
Banyak
yang bilang Jay Pritchett itu generasi tua yang kaku. Tapi ia tak hanya
berusaha jadi kakek yang baik untuk Haley, Alex dan Luke. Ia pun berusaha jadi
kakek yang baik untuk cucu tirinya, Lily. Ia memang merasa gagal dalam
membesarkan Claire dan Mitchell, tapi ia berusaha buat tidak gagal dalam
membesarkan anak tirinya, Manny.
Banyak
yang bilang Phil itu tipikal ayah dan suami sok asyik yang sebenarnya jauh dari
asyik, tapi ia berusaha jadi ayah dan suami yang baik untuk Haley, Alex, Luke
dan Claire. Demikian juga Claire, yang berusaha jadi ibu dan isri yang baik
untuk mereka.
Haley?
Dia cuma remaja 2000an yang tumbuh dengan Justin Bieber, Hannah Montana dan
Lindsay Lohan. Jadi sangat wajar ia cuma peduli penampilan dan popularitas
saja, karena saat saya seusia Haley, saya juga gitu kok!
Alex?
Dia ini versi lite dari Sheldon Cooper yang merasa bahwa everybody in this
family is stupid except of me! Pasti stress juga jadi Alex karena ayah,
ibu, kakak, adik, paman, hingga kakeknya gak ada yang bisa mengerti dengan apa
yang ia ketahui, terutama dalam sains dan pengetahuan umum yang harusnya mereka
ketahui.
Luke?
No comment sih hahahaha pokoknya ya tipikal anak bungsu bodoh yang gak suka
baca buku aja. Jadinya gitu deh. Beda jauh sama Alex soalnya.
Gloria?
Ia berusaha membuktikan pada semua orang kalau ia bukan gold digger, dimana ia
menikahi Jay hanya untuk hartanya. Pada season pertama, diperlihatkan bahwa
Claire sangat membencinya dan menanggapnya sebagai gold digger. Ya jelas atuh,
Gloria ini bukan sekadar janda random biasa, tapi ia hitungannya imigran asal
Kolombia dan kurang lebih usianya gak beda jauh dari Claire. Bisa
ngebayangangin gak sih wanita yang usianya gak beda jauh malah jadi ibu tiri lo
bakal seaneh apa?
Manny?
Kebalikan dari Luke. Ia orang dewasa yang terjebak dalam tubuh anak-anak. Ia
suka kopi hitam, baca puisi, dan romantis kayak pujangga. Ia memperhatikan apa
yang ia kenakan, pakai parfum banyak-banyak dan tahu frase kata-kata romantis
buat memikat lawan jenis.
Mitchell
dan Cameron? Pasangan gay yang pastinya bikin saya geleng-geleng kepala soalnya
tiap episode selalu ada kekonyolan yang mereka lakukan. Tapi satu hal yang
pasti, kayaknya mereka enak buat diajak curhat apa saja?
Lily? The
queen of sarcasm!
Jadi
ya ketika nonton ulang Modern Family, saya membayangkan sebagai tokoh random
yang ada disekitar mereka. Misalnya saya adalah imigran asal Indonesia yang
rumahnya sebelahan sama Phil. Ketika saya lari pagi, saya sering berpapasan
dengan Claire. Karena Season 1 Modern Family ini berseting pada tahun
2008/2009, ya bisa jadi saya satu sekolah dengan Haley, tapi gak akrab sama
sekali, cuma sekadar tahu doang. Ada momen-momen ketika sudah kenal beberapa
tahun, atau pada season-season selanjutnya, saya sering datang ke rumah Mitch
dan Cameron buat curhat masalah cinta dan sebagai pasangan gay, mereka ngasih
masukan outfit dan cara deketin teman-teman Haley misalnya. Saya juga mungkin
bakal diskusi sains dengan Alex atau diskusi buku Sabahattin Ali berjudul
Madonna in a Fur Coat bareng Manny.
Baca
tulisan saya di BandungBergerak: RESENSI
BUKU: Madonna in a Fur Coat, Begini Rasanya Jatuh Cinta Satu Abad yang Lalu
Saya
membayangkan suatu pagi Phil sedang gagal memperbaiki pagar rumah, lalu entah
bagaimana saya ikut dimintai bantuan. Lima menit kemudian malah makin rusak.
Atau, saya keliatan lagi nyuci motor Supra X 100 saya yang saya bawa jauh-jauh
dari Indonesia ke Los Angeles dan Phil sok-sokan mau nyobain dan akhirnya
nabrak.
"In
my defense... nobody told me the brake was... somewhere else."
(diam
sejenak sambil lihat kamera)
"Okay...
he definitely told me."
Atau
misal ketika saya rutin lari pagi dengan Claire dan pada sesi wawancara ia
bilang ke kamera “Punya partner lari pagi itu enak. Masalahnya, dia seumuran
Haley, nanti tetangga pasti menuding yang macam-macam! But I don’t care!
Daripada ditemenin Phil, mending sama dia karena dia pakai headphone dan
posisinya selalu di depan saya”
Bisa
juga, Gloria dan Claire menasehati saya habis-habisan karena strategi saya buat
deketin teman Haley yang sangat populer banget itu mereka nilai salah. Atau
bayangin adengan Mitchell dan Cameron yang malah teriak-teriak histeris saat
saya ajakin buat donor darah karena mereka takut jarum dan darah, lalu Lily
mengucapkan sarkasmenya “Punya dua ayah yang bodoh memang merepotkan ya, Kak
Wisnu?”
Adegan
di atas tentu gak pernah terjadi. Saya bahkan belum pernah menginjakkan kaki di
Los Angeles. Tapi ya anggap saja, pada rewatch kedua ini, saya merasa bahwa
mereka bukan lagi sekadar karakter series. Mereka seperti beneran keluarga yang
selalu menyambut saya setiap kali saya nonton Modern Family. Anggap aja sebagai
my personal alternate universe. Saya cuma jadi Npc pada Modern Family yang gak
ngaruh ke jalan ceritanya.
Other
than that, saya iri juga sih. Dalam artian, kehidupan yang dialami para
karakter pada sitkom Modern Family ini memang tidak sempurna, but it’s family.
Someone you can rely on. Someone you can love. Someone you can spent your time
with. Something you can called home. Tentu, saya juga punya keluarga, tapi, tanpa
bermaksud tidak bersyukur, tentu tidak sehangat dan seasyik mereka-mereka pada
sitkom ini.
Selain
itu, The Dunphy, The Pritchett dan The Pritchett – Tucker ini secara ekonomi
wealthy banget. The Dunphy punya rumah besar di Los Angeles lengkap dengan
mobil, furniture estetik, dan segala fasilitas lainnya. The Pritchett apalagi, rumah Jay ini jauh
lebih besar dari rumah Phil, punya kolam renang dan fasilitas yang lebih mumpuni.
The Pritchett – Tucker rumahnya memang paling
kecil diantara ketiga keluarga besar ini, tapi tetap dapat dikatakan mereka
bukan tipikal orang atau keluarga yang susah secara ekonomi. Dari kamacata
third world country seperti Indonesia, ya mereka super wealthy. Haley, Alex,
Luke gak pernah ngerasain susah dari kecil. Bahkan Lily juga gak pernah susah
dari lahir karena ia diadopsi Mitchel dan Cameron. Mungkin Manny yang sempat
merasa susah karena ia menyaksikan orang tuanya bercerai dan Gloria juga sempat
hidup susah sebagai orang Kolombia di Amerika.
Saya
tahu mereka tidak nyata. Tapi setiap kali menekan tombol Play, rasanya
seperti ada keluarga yang berkata, "Welcome back."
0 Comments