Sambil nunggu Part 2 dari Season 5 Strangers Things, muncul video random yang intinya cuplikan film anak SMA yang suka heavy metal, semacam School of Rock (2003). Film ini berjudul Metal Lords (2022). Kebetulan pula, film ini menampilkan Brett Gelman yang jadi Murray Bauman di series Stranger Things. Dan tentu saja ada adegan main Dungens and Dragons juga di film ini kayak di Stranger Things.

Tentu, sebagai pencinta musik rock, saya suka dengan film ini. Ini semacam versi terbaru School of Rock (2003), dimana generasi mudanya digambarkan udah gak relate dengan musik rock lagi. Jadi tokoh utama di dalamnya semacam jadi minoritas di sekolah karena selera musiknya beda dengna kebanyakan orang.

Seperti film Hollywood pada umumnya, film ini menampilkan bullying yang sekolah jadi urat nadi film Hollywood yang seting utamanya di sekolahan SMA. Film ini juga menampilkan perseteruan antara orang tua dan anak SMA yang menyebabkan sang anak cari pelarian dengan musik. Dan karena mental awareness sudah semakin masif, film ini pun menampilkan anak SMA yang sudah mulai melakukan pengbatan psikiatri untuk mengatasi permasalahan kesehatan mentalnya, beda dengan film 20 atau bahkan 40 tahun yang lalu macam The Breakfast Club (1985).

Ah, film berseting anak SMA daridulu, dari sejak saya SMA sampai sudah kepala tiga entah kenapa selalu menarik? Pemberontakan remaja pada orang tua dan guru, pencarian jati diri, dan percintaan remaja.

Yah, makanya saya selalu suka film-film berseting SMA macam The Breakfast Club (1985), Dead Poets Society (1989), hingga 10 Things I Hate About You (1999). Film berseting SMA dari Indonesia macam Catatan Akhir Sekolah (2005), Realita, Cinta dan Rock'n Roll (2006), hingga Dilan 1990 (2018). Gak ketinggalan, game macam Bully juga.

Hunter

Sejak kecil, saya selalu iri dengan kehidupan anak remaja di Amerika. Mereka bisa pakai baju bebas dan punya rambut gondrong, beda dengan Indonesia. Bahkan beberapa film SMA menggambarkan mereka bisa bebas berpelukan dan berciuman dengan pacarnya depan guru tanpa jadi masalah asal sama-samsa consent hahahahaha. Tapi ya namanya juga film, saya sendiri gak pernah tinggal di Amerika jadi gak tahu realitas sesungguhnya seperti apa. Tapi serius, saya suka banget dengan gaya Hunter (Adrian Greensmith) pada film ini.

Entah saya yang idealis atau saya gak bisa move on? Karena tokoh-tokoh pemberontak itu seolah masih ada pada diri saya? Saya masih pakai kaos band kemana-mana, masih berambut gondrong, masinh mendengarkan musik-musik rock, disaat teman-teman SMA atau teman-teman kuliah saya sudah mulai meninggalkan itu semua karena tuntutan hidup, yakni pekerjaan dan keluarga.

Saya rasa, film-film pemberontakan anak SMA gini gak akan ada matinya. Tiap generasi bakal ada terus. Mau film yang setingnya sebelum Perang Dunia pun, presmisnya sama, konflik anak remaja dengan guru dan orang tua. Dan entah kenapa, orang tua maupun guru, yang pastinya pernah merasakan masa-masa remaja ini seolah kehilangan idealisme dan semangat mudanya dan gak mengerti para pemuda ini maunya apa?

Mungkin itu sebabnya, Smells Like Teens Spirit karya Nirvana gak pernah mati. Ia tak hanya relate untuk remaja yang tumbuh di tahun 90an saja, ia masih tetap relate untuk Gen Z yang lahir 10 tahun setelah Kurt Cobain meninggal, dan rasanya, ia masih akan tetap relate untuk Gen Alpha yang lahir 25 tahun setelah Kurt Cobain meninggal. Tentang pemberontakan dan pencarian jati diri.