Sehabis nonton Project Hail Mary (2026), saya langsung nonton ulang WALL•E (2006). Alasannya? Simply karena premis dua film ini mirip. Project Hail Mary (2026) ini kurang tepat kalau dibandingkan dengan Interstellar (2014) karya Nolan. Lebih tepatnya dibandingkan dengan WALL•E (2006). Baik Project Hail Mary atau WALL•E sama-sama bercerita tentang kondisi kesepian dan persahabatan beda spesies. Jika Project Hail Mary bercerita tentang persahabatan antara manusia dan alien, WALL•E bercerita tentang persahabatan atau bahkan percintaan antara robot beda jenis.

Pada film WALL•E, sebuah robot pembersih sampah bernama Wall-E diciptakan manusia untuk membersihkan bumi yang sudah jadi tumpukan sampah dan gak layak huni sehingga ditinggalkan umat manusia. Sebagai robit, harusnya Wall-E gak punya rasa lelah, apalagi punya sifat seperti manusia. Tapi Wall-E ini unik, ia mengkoleksi sejumlah barang yang ia anggap berharga. Ia pun demen nyetel video maupun musik yang ia anggap bernilai seni tinggi. Mungkin, karena Wall-E sudah terlalu lama sendiri, dimana ia 700 tahun bekerja seorang diri tanpa kehadiran siapapun kecuali ditemani seekor kecoa yang ngikutin Wall-E kemanapun.

Suatu ketika, Wall-E kedatangan tamu bernama EVE (Extraterrestrial Vegetation Evaluator), sebuah robot canggih yang sepertinya turun ke Bumi secara berkala untuk mengecek apakah Bumi sudah dapat dihuni lagi oleh manusia.

Singkatnya, Wall-E jatuh cinta pada EVE. Ia berusaha menunjukkan rasa cintanya, terutama saat EVE mengalami semacam hibernasi setelah menemukan bahwa Bumi sudah kembali layak huni. Damagenya semakin menjadi-jadi saat lagu legendaris La Vie en Rose yang dibawakan Louis Armstrong ini dinyanyikan. Lagu ini gak pernah gagal untuk mendeskripsikan betapa dahsyatnya efek cinta, sebagaimana yang pertama saya dengar pada sitkom How I Met Your Mother.

Baca tulisan saya: Ending How I Met Your Mother itu Sudah Sebagaimana Mestinya Kok!

Menyaksikan itu pada usia 30++ bikin saya bergumam, “Even robots have a better love story than my life!

Entahlah, mungkin ini kali keempat atau kelima saya nonton WALL•E sejak pertama kali muncul. Semakin saya tonton ulang, saya jadi paham kenapa Wall-E sangat mencintai EVE. Wall-E sudah terlalu lama sendiri sehingga cara kerja dan cara pikirnya berbeda seiring berjalannya waktu. Bayangkan saja, 700 tahun bekerja seorang diri di Bumi, hanya ditemani seekor kecoa.

Ditambah, Wall-E ini bisa merasakan cinta maupun emosi yang umumnya dirasakan manusia ya karena Wall-E mempelajari sejarah manusia lewat musik, video, maupun artefak yang ia temukan saat beres-beres selama 700 tahun terakhir ini. Demikian juga EVE, ia jadi punya emosi dan perasaan setelah pertemuannya dengan Wall-E.

Animasi Pixar memang gak pernah gagal. Pixar gak cuma unggul dalam aspek visualnya saja, tapi storyline dan makna di dalamnya. Ada mainan bisa hidup (Toy Story), ada rumah bisa terbang (Up), ada mobil bisa hidup (Cars), hingga ada robot bisa jatuh cinta (WALL•E).

Pada intinya, setiap makhluk hidup itu memang gak bisa hidup tanpa cinta. Mungkin itu yang ingin disampaikan Pixar lewat film WALL•E? Tentunya saya gak tahu persis.

Kalau konteks manusia, mungkin setiap orang bisa aja merasakan amazingnya seks itu kayak gimana dengan siapa saja. Basically jika kita bicara tentang teknis. Tapi untuk mendapat kedalaman? Ya harus dengan orang yang sangat ia cintai. Cinta itu gak melulu tentang seks. Ada kalanya sekadar mendengarkan indahnya La Vie en Rose seperti yang dilakukan Ted Mosby yang gak ada bosan-bosannya mendengarkan Tracy McConnell nyanyi La Vie en Rose is something else beyond sex.

Wall-E harus nunggu 700 tahun hingga bertemu EVE. Ted Mosby harus nunggu sembilan season sampai bertemu Tracy dibawah payung kuning. Bahkan dalam Agama Abrahmic, dikisahkan bahwa Adam dan Hawa terpisah bertahun-tahun setelah turun dari Surga ke Bumi hingga akhirnya kembal bertemu satu sama lain.

Tapi ya di dunia ini gak semuanya beruntung seperti Wall-E dan EVE. Gak semua beruntung seperti Ted Mosby dan Tracy McConnell. Ada juga yang bernasib sial seperti burung Kauaʻi ʻōʻō dimana pada tahun 1987di Hawaii, ia bernyanyi untuk memanggil lawan jenisnya pada musim kawin tanpa mengetahui bahwa ia adalah individu terakhir dari spesies terakhirnya. Normalnya, Burung Kauaʻi ʻōʻō ini berduet bareng pasangannya saling bercuit-cuitan satu sama lain. Namun alih-alih dapat jawaban dari nyanyiannya, yang ia dengar hanya gema suaranya sendiri. Manusia memang brengsek.