Pagi ini, begitu buka layar smartphone, saya dibuat kaget karena saya tiba-tiba saja dapat tiket gratis untu nonton film Project Hail Mary (2026). Jujur, terakhir kali ke bioskop sepertinya dua atau tiga tahun lalu? Saya gak ingat persis. Saya juga gak ingat film apa yang saya tonton. Tanpa basa-basi saya mengambil kesempatan langka tersebut. Mudah-mudahan yang ngasih tiket selalu diberi kebahagiaan selalu hidupnya.

Buat saya, Ryan Gosling bukanlah nama baru. Bukannya sok kenal, tapi saya cukup menyukai penampilannya dalam filmnya seperti The Notebook (2004), La La Land (2016) dan The Gray Man (2022). Terutama The Notebook dan La La Land, itu benar-benar berkesan banget buat saya.

Setelah cukup aktif main di film action, sekarnag dia main di film sci-fi yang berjudul Project Hail Mary (2026). Basically, film ini tuh premisnya sama seperti Interstellar (2014) karya Christopher Nolan, dimana tokoh utamanya, Grace (Ryan Gosling) harus traveling keluar angkasa, cari solusi untuk menyelamatkan Bumi. Teknis sainsnya bisa kalian cari sendiri ya.

Visual effect untuk film ini juara banget, apalagi saya berkesempatan nonton ini pada ScreenX CGV yang punya layar 270 derajat. Ah, seandainya dulu nonton Interstellar atau Gravity (2013) karya Alfonso Cuaron di ScreenX, pasti bakal lebih epik!

Grace dan Rocky

Lupakan adegan berkesan antara ayah dan anak seperti pada Interstellar. Disini adegan berkesannya ya antara manusia dan seorang alien yang bentuknya kayak batu yang Grace beri nama Rocky.

Awalnya, tentu mereka gak bisa komunikasi, mirip seperti Bangsa Eropa saat pertama kali bertemu Bangsa Aztec, tapi dengan bantuan komputer dan AI, ya mereka akhirnya bisa translate satu sama lain dan bekerja sama untuk bisa menyelamatkan planetnya masing-masing.

Film sci-fi kayak gini tuh membuka mata saya banget, bahwa pasti ada kehidupan lain diluar Bumi. Bahkan menuju alpha centauri dengan kecepatan cahaya saja butuh sekitar 4 tahun. Masa alam semesta kosong begitu saja? Sungguh, sebesar apapun masalah hidup kamu, gak ada apa-apanya di alam semesta yang luas ini. Apapun prestasi kita pun, gak signifikan sama sekali pada alam semesta ini. Dan teknologi umat manusia pun masih sangat primitif. Hingga tulisan ini saya tulis, kita saja masih kesulitan untuk sekadar ekspedisi ke Planet Mars. Masih jauh lah dari teknologi seperti pada Star Wars atau game Mass Effect!

Film ini pun alurnya maju – mundur gitu untuk menjelaskan kehidupan Grace sebelum terbangun diluar angkasa dan bertemu dengan Rocky. Grace ini seorang ilmuwan. Punya gelar PhD. Hanya saja, karena ia idealis dan pernah mocking ilmuwan lain yang tidak sependapat dengannya, ia dipecat dari pekerjaannya dan ngajar sains untuk sebuah SMP.

Oh iya, karakter Grace di film ini juga beda dengan Cooper pada Interstellar yang sangat serius. Grace itu karakter yang humoris banget. Seperti Phil Dunphy pada sitkom Modern Family atau Ted Mosby pada sitkom How I Met Your Mother gitu. Seolah Grace ini gak ingat bahwa nasib umat manusia ada pada tangannya.

Simak tulisan saya: Di Luar Dugaan, Modern Family Rame Juga Ternyata!

Kalau dibandingkan dengan Interstellar karya Nolan, tentu film ini kalah telak, terutama storyline dan kedalaman cerita. Tapi ini film yang sangat bisa saya nikmati, yang daridulu suka film-film sci-fi dan pop culture yang membahas tetek bengek luar angkasa kayak gini. Sayangnya, kesukaan saya pada hal-hal sci-fi gak bisa saya wujudkan sebagai mata pencaharian karena ya niat saya untuk melakukannya terhalang tembok, dimana saya gagal masuk ITB, bahkan sampai tiga kali. ~wqwqwq