Selama
lebih dari 25 tahun, saya sudah ratusan atau bahkan ribuan kali dengerin lagu
Nirvana. Mulai dari zaman kaset pita, zaman MP3 bajakan, hingga era Spotify. Meski
gak kenal Kurt Cobain, Dave Grohl dan Krist Novoselic secara langsung, sejarah
Nirvana sudah berkali-kali saya baca lewat majalah musik, surat kabar, film
dokumenter, maupun konten yang saya lihat di sosial media, termasuk teori
konspirasinya dari yang sangat masuk akal sampai yang benar-benar asbun.
Selama
itu pula, saya mengenal istri Kurt Cobain, Courtney Love sebagai cewek random
yang ia nikahi. Bahkan banyak sekali diantara penggemar Nirvana yang menganggap
Courtney Love seperti Yoko Ono, yang dikambinghitamkan atas perubahan sikap
John Lennon yang menyebabkan The Beatles bubar. Tapi semuanya berubah di tahun
2026.
Di
tahun 2026, saya lagi explore musik-musik baru, meski akarnya masih pada musik
rock, dimana saya menemukan Kelompok Penerbang Roket yang vibesnya seperti
Black Sabbath, The Jansen yang vibesnya seperti Ramones, hingga Lips yang disebut
sebagai Kathleen Hanna (Bikini Kill) dari Indonesia. Gak pake lama, saya
dengerin lagu-lagu Bikini Kill dan terpukau and suddenly algoritma Spotify
merekomendasikan saya Hole, yang dari deskripsinya mendeskripsikan bahwa ini
band Courtney Love. Siapa bilang usia 30 tahun keatas orang gak pernah explore
musik baru lagi?
Kesan
pertama saya, “She’s amazing!” ketika dengerin lagunya yang berjudul
Celebrity Skin dan Violet.
Teriakan
dan lolongannya benar-benar enerjik dan seperti mengekspresikan pemikiran serta
perasaan saya, sama seperti lolongan Kurt Cobain. Mungkin, ini yang membuat
Kurt Cobain jatuh hati pada Courtney Love? Saya sendiri tentu tidak akan tahu
persis, harus saya tanya sendiri suatu saat nanti di Alam Sana.
Rasanya
benar-benar lucu. 25 tahun lebih tahu Nirvana dan Foo Fighters tapi baru
dengerin Hole sekarang. Ya habisnya gimana? Citra Courtney Love ini jelek
banget. Dianggap sebagai villain sama kayak Yoko Ono. Apalagi ada lagu Foo
Fighters berjudul I’ll Stick Around yang katanya sebagai sindiran Dave Grohl
pada Courtney Love.
It’s
seems like, saya gak pernah bisa move on dari grunge 90an? Pasalnya,
teman-teman saya pada sudah bisa move on, dalam artian, mungkin sudah gak
hampir gak pernah dengerin lagi musik-musik grunge karena fokus pada pekerjaan
maupun berkeluarga. Sekalipun masih mendengarkan, frekuensinya mungkin gak
sebanyak saya.
Baca
tulisan saya: 'Black',
Lagu Pearl Jam yang Bisa Bikin Nangis
Kalau
saya justru sebaliknya, di tahun 90an saya merasa biasa saja dengan Nirvana
maupun band grunge lainnya. Di tahun 2026 ini playlist harian saya hampir
selalu lagu-lagu grunge, terutama pada pagi hari saat gym atau lari pagi maupun
siang hari saat bekerja atau lagi nyantai. Meski ya kalau malam hari sih
waktunya musik blues macam Gary Moore maupun slow rock ballad kayak Scorpion dan
Deep Purple ya.
Baca
tulisan saya: Soldier
of Fortune dan Perasaan yang Sulit Dijelaskan
Teman-teman
maupun sanak saudara saya yang tumbuh dengan musik grunge 90an pun sekarang
cenderung stabil hidupnya. Sepertinya hanya saya yang semakin tua semakin
rebel, dan semakin relate dengan Courtney Love, Kurt Cobain, Eddie Vedder,
Chris Cornell, maupun Dave Grohl karena seiring waktu, saya malah jadi
keranjingan buat punya kaos bandnya (meski masih versi DIY, belum mampu beli
original merchnya) maupun ngoleksi kaset pita dan CD originalnya.
Mungkin
saya bukannya telat discovering Hole kali ya? Mungkin karena baru cukup tua
untuk memahami teriakan-teriakan mereka, lirik-lirik mereka yang depresif, dan bagaimana
ekspresifnya mereka lewat penampilan yang dinilai urakan oleh Generasi Boomer
pada zaman itu apalagi pada zaman sekarang.
Entahlah.
Jadi ngebayangin, kalau misal random ketemu Dave Grohl di Blok M dan dia liat
saya pakai kaos Nirvana atau Foo Fighters, mungkin dia bakal bilang “Nice shirt
man!” lalu ngajakin selfie.
Tapi kalau
dia lihat saya pakai kaos Hole lengkap dengan muka Cortney Love, kira-kira
gimana ya?
0 Comments