Toy
Story adalah salah satu film animasi paling berkesan dalam hidup saya. Tentu,
tulisan ini sangat bias, terutama karena saya pertama kali menontonnya saat
saya kecil Seingat saya, Toy Story (1995) pertama saya tonton saat saya duduk
di bangku TK, yakni pada tahun 96 atau 97, sedangkan Toy Story 2 (1999) saya
tonton saat saya duduk di bangku SD, yakni tahun 1999 atau 2000. Keduanya saya
tonton dalam bentuk VCD. Ini belum ditambah game Toy Story 2 yang sering saya
mainkan pada console PlayStation di tahun 2000an.
Baca
tulisan saya: Betapa
Beratnya Menonton Toy Story Ketika Berusia 30 Tahun
Banyak
orang menilai bahwa Toy Story sudah pas pada film ketiganya, yakni Toy Story 3
(2010) karena ditutup dengan sempurna. Perpisahan Andy dengan menyerahkan Woody,
Buzz, Jessie, Rex, Mr. and Mrs. Potato Head, Bullseye, Hamm dan Slinky Dog pada
Bonnie itu sudah sangat sempurna dan iconic. Jadi gak heran banyak yang
menganggap Toy Story 4 (2019) apalagi Toy Story 5 (2026) itu gak
penting-penting amat.
Buat
saya, Toy Story 4 (2019) dan Toy Story 5 (2026) tetap enak untuk dinikmati
meski storylinenya tidak sedalam tiga film pertamanya. Memang, gak ada adegan
iconic “To Infinity and Beyond” dan “When She Loved Me”, tapi dua
film ini memotivasi saya untuk tidak membuang mainan. Sebaliknya, memotivasi
saya untuk terus memelihara dan membeli mainan secara berkala serta merawatnya
sebisa mungkin. Saya ingin terus memelihara hal yang bisa membuat saya terus
merasa muda dan bahagia.
Mengenai
Toy Story 5, buat saya, ia masih belum kehilangan magisnya. Visual yang masih memanjakan
mata, background music dan storyline yang terus berkembang seiring perkembangan
zaman.
Toy
Story 5 berfokus pada anak-anak yang tak lagi bermain dengan mainan fisik dan
berfokus pada tablet, smartphone, atau laptop. Mereka lebih sering menatap
layar alih-alih bermain dengan mainan fisik. Fenomena ini benar adanya, hampir
seluruh orang punya smartphone, termasuk anak-anak. Apalagi sejak pandemi
Covid-19, sekolah juga bisa online jadi punya device macam smartphone atau
laptop itu ya biasa saja.
Baca
tulisan saya: Lightyear
(2022) Flop bukan Masalah Pelangi, Tapi Memang Plotnya yang Kurang Aja
To be
honest, console PlayStation sendiri sudah ada pada tahun 1994, dan saya
memilikinya pada tahun 1998. Bisa dibilang, saat itu saya lebih mahir bermain PlayStation
alih-alih layang-layang atau bermain basket maupun sepak bola. Tentu, ini juga
privilese, karena saya lahir dan tumbuh di Kota Bandung sebagai kelas menengah.
Kalau saya lahir pada suatu kabupaten yang jauh dari kota, saya juga pasti
lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain layang-layang, bermain sepak
bola, maupun ngabolang di leuweung jeung barudak.
Bisa
dibilang, permasalahan utamanya bukanlah gadget. Seperti yang saya bilang,
PlayStation sudah ada dari tahun 1994, kok! Bahkan dua film pertama Toy Story
saya memperlihatkan universe Toy Story dimana anak-anak sangat umum untuk
bermain arcade maupun console game. Saya rasa, ini karena pola asuh saja? Gak
banyak orang tua yang memperkenalkan mainan fisik, buku cerita, maupun komik
pada anak. Banyak orang tua yang mau gampangnya saja dengan ngasih gadget
daripada mau repot-repot seperti itu.
Tapi
ya saya sendiri gak akan bahas parenting. Bukan ahlinya juga.
Saya
sendiri nonton Toy Story 5 seorang diri. Tanpa agenda, dadakan saja karena
kalau direncanakan itu biasanya gak akan jadi. Saya sudah lama berencana sambil
membawa sejumlah mainan Toy Story yang saya miliki dari paket Happy Meal dari
McDonald's sejak lebih dari seperempat abad yang lalu, lalu memfotonya tepat di
hadapan poster filmnya.
Sebut
saja saya tidak dewasa, kekanakan, pick me, FOMO atau apapun, saya sih gak peduli.
Saya hanya peduli pada kesenangan saya pribadi saja, selama itu tidak mengganggu
urusan orang lain.
Sebut
saja saya sotoy, tapi saya rasa, orang yang membuat Toy Story atau cerita
anak-anak yang cenderung happy ending itu beneran orang yang bahagia. Sebab,
jika ia tidak bahagia, ia akan membuat cerita-cerita dark dan depresif macam DC
Universe, Shingeki no Kyoujin, atau film-film noir surealis kayak David Lynch.
Ya atau bisa aja sih creator Toy Story ini emang bisa menyembunyikan perasaan
dan pengalaman traumatis hidupnya sih, bisa juga.
Bukan
tanpa alasan saya bilang gitu. Bukan perkara visualnya saja. Bukan perkara storylinenya
saja. Somehow, background story, alias hal-hal sederhana diluar perkara
teknisnya pun sangat magis. Lingkungan (neighborhood) tempat Andy dan Bonnie
lahir dan tumbuh pun benar-benar “family” banget. Tone warna, arsitektur dan
suasananya yang begitu “family” jadi ya gak usah heran Andy dan Bonnie ini
nggak jadi bocah kelam macam Bruce Wayne atau Eren Yeager. Serius, background keluarga
dan lingkungan seberpengaruh itu. . Lingkungan yang hangat melahirkan anak yang
hangat. Ya, terlepas dari target pasar film ini emang beneran buat anak-anak
sih, bukan kayak universe DC.
Nonton
Toy Story pada kepala tiga seorang diri pada malam hari itu bukan sekadar
nonton biasa sih. Ia merawat kewarasan di dunia yang sekarang serba cepat. Ya
semoga saya bisa terus nambah koleksi berbagai mainan untuk menjaga kewarasan.
Baca
tulisan saya: Mengoleksi
Mainan untuk Hidup
0 Comments