Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tahun 90an, tentu, tulisan ini sangat bias. Semakin bias juga karena saya termasuk kaum yang punya privilese untuk lahir dan tumbuh pada tahun 90an di lingkungan kelas menengah yang sangat nyaman pada tahun 90an. Tapi saya menyebut era tersebut sebagai Sweet Innocent of 90s.

Di tahun 90an, lagu-lagu, film, buku, hinga media itu terkesan optimistis. Sebut saja lagu-lagu karya Celine Dion, Westlife, Mariah Carrey hingga Whitney Houston yang timeless. Bahkan lagu-lagu slow rock kayak Bryan Adams pun terkesan optimistis sekali. Jangan lupakan juga karya Sixpence None the Richer seperti “There She Goes” dan “Kiss Me” dan Torn-nya Natalie Imbruglia.

Film-film seperti film yang dibintangi Julia Roberts, Tom Hanks, maupun Meg Ryan pun sangat optimistis. Really, really, really sweet innocent of 90s ketika semuanya benar-benar romantis, minim perselingkuhan, perceraian bahkan KDRT. Cerita cinta-cintaan di dalamnya bahkan minim bentak-bentakan. Jangan lupakan juga legendarisnya Home Alone, The Parent Trap (1998) dan film family 90an lainnya.

Memang, era tersebut ada sisi gelapnya seperti lagu-lagu grunge karya Nirvana, Soundgarden, Hole, atau Alice in the Chains. Era tersebut pun punya sisi gelap seperti film The Silence of the Lambs (1991), tapi saya rasa, dunia setelah 11 September 2001 terasa sangat suram. Sekarang, lagu-lagu, film, buku, hinga media yang isinya penuh kesuraman. Gelap bak DC Universe.

Bahkan film animasi yang notabene pangsa pasarnya untuk anak-anak seperti produksian Disney atau Pixar pun premis ceritanya bukan lagi tentang a little princess that dreamed about prince charming. They’re just wanted apology from their family and their parents. Sebut saja Brave (2012), Inside Out (2015), Coco (2017), hingga Turning Red (2022).

It actually makes sense the world I was raised in no longer exist.

Tahun 90an, pada umumnya, ekonomi global itu lagi baik-baik saja, makanya lagu-lagu, film, buku, hinga media itu terkesan optimistis. Di Jepang, tahun 80an itu kan identik sama Citypopnya yang liriknya ear catchy dan optimistis tentang dunia dan cinta, sebelum mulai collapse pada tahun 90an.

Even McDonald's berubah total dari yang penuh warna-warni keceriaan, menjadi kelabu industrial yang gak beda jauh dari penjara. Analisis sotoy saya sih seperti itu. Sebelum miliaran dari kita turun kelas secara ekonomi.

Tahun 2020, Pandemi Covid-19 pun memperparah itu semua dan menjatuhkan mental manusia secara global. Setelah itupun muncul Resesi Ekonomi akibat Perang Russia – Ukraina, Perang Amerika Serikat – Iran dan Perang Israel – Palestina.

The world we used to know is long gone. We can’t stop it. We just have to face it and move on.